peperonity.net
Welcome, guest. You are not logged in.
Log in or join for free!
 
Stay logged in
Forgot login details?

Login
Stay logged in

For free!
Get started!

Downloads


pembantu.majikan.peperonity.net

Bi Asih 02

Bi Asih 02

sambungan dari bagian 01

Aku duduk di sofa panjang sedangkan Bi Asih duduk di karpet bawah lalu kupanggil dia, "Bi sini dech.., tolong liatin dong bagian pinggang belakangku kok agak nyeri..".
Bi Asih datang dan pindah ke sofaku, "Mana den".
"Ini nich", aku tarik tangannya ke pinggang belakangku lalu dia dia bilang, "Tidak ada apa-apa kok.

Saat itu tiba-tiba timbul lagi pikiran kotorku mengingat kejadian malam kemarin dan Bi Asih tidak marah, kalau sekarang saya agak nakal sedikit pasti Bi Asih tidak akan marah. Lalu aku bilang, "Ini Bi Asih, tapi Bi Asih matanya merem ya.., soalnya aku malu keliatan bodongku", dia tersenyum dan mengangguk, lalu memeramkan matanya. Nah, ini aku pikir kesempatanku. Aku pegang kecang-kencang pergelangan tangan Bi Asih, lalu kubuka ritsluiting celanaku dan aku tarik ke bawah celana dalamku penisku masih setengah besar belum terlalu tegang.

Lalu kutarik tangan Bi Asih dan meletakkan di atas penisku.., dia bilang, "Eh apa ini..", terus aku bilang, "Eh awas jangan buka matanya ya..", dia mengangguk dan bertanya lagi, "Apa sich ini kok hangat".

Begitu tersentuh tangan Bi Asih, menaraku mulai berdiri dengan gagahnya dan mulai membesar cepat sekali. Rupanya Bi Asih curiga dan membuka mata. Eh, pamali dia bilang.., tapi aku tahan terus tangannya dan aku pandangi mata Bi Asih.., dia tersenyum malu dan tersipu. Dengan lirih dia bilang, "Jangan den tidak sopan..", tapi aku bilang, "Tolong dong bi.., pingin banget dech.."

Kayaknya Bi Asih kasihan padaku.., dia mengangguk dan bilang, "Cepetan ya Den, sebentar saja jangan lama-lama dan tidak boleh macam-macam.., ntar kalau orang tua aden tahu Bi Asih kena marah..", dan dia bilang, "Eeeh ih kok besar banget sich Den". "Iya", jawabku singkat. Lalu tangan Bi Asih menggenggam penisku dengan lembut dia menggosoknya dari ujung kepala sampai ke pangkal penisku. Kira-kira 10 menit.., dengan agak serak dia bilang, "Sudah belum den.."

. Saat itu aku merasa melayang dan entah bagaimana tiba-tiba keberanianku timbul, kupegang lengan Bi Asih terus naik ke bahu.., leher.., pelan-pelan turun ke dadanya. Dia bilang, "Eh den mau apa..", tapi aku pura-pura tidak mendengar tanganku terus turun dan sampai ke dadanya yang agak membusung ke depan. Bi Asih agak sedikit bergetar badannya, dia bilang dengan halus, "Jangan den.., jangan", tapi dia tidak menepis tanganku. Aku semakin berani, pelan-pelan kuremas dadanya kiri kanan bergantian. Nampak napas Bi Asih agak memburu. Aku semakin berani lagi.., teringat akan bentuk buah dadanya yang indah tadi malam.., maka dengan sedikit nekat tanganku mulai masuk ke BH-nya. Ah, payudaranya terasa lembut sekali. Bi Asih bilang lagi dengan lirih, "Den jangan..", aku tidak peduli.

Lalu kubuka baju atas Bi Asih dan kubuka juga BH-nya. Mula-mula Bi Asih menolak untuk di buka tapi dengan agak sedikit memaksa akhirnya dia pasrah dan terbukalah bagian atas badan Bi Asih. Payudaranya munjung membusung ke depan, besar, putih dan bundar. Lalu mulai kuremas-remas, Bi Asih agak sedikit menggeliat, napasnya memburu. Aku ingat akan buku porno yang kubaca, lalu aku coba mempraktekkan.., aku mencoba mencium puting payudaranya lalu aku emut-emut seperti mengemut permen. Wah, sepertinya Bi Asih sangat menikmati permainanku, napasnya memburu dan agak sedikit terengah-engah. Ketika kuhisap lagi putingnya, dia pegang kepalaku dan bilang, "Den.., sudah Den.., sudah.., ah Bi Asih tidak tahan..", katanya. Aku malah makin bersemangat, seluruh payudaranya kujilati, aku kulum-kulum, aku emut-emut.

Bi Asih semakin gelisah dan tangannya yang tadi mengocok-ngocok penisku kiri terhenti bergerak dan hanya meremas penisku dengan kencang sekali, agak sakit juga rasanya tapi aku biarkan saja. Supaya lebih nikmat akhirnya aku buka baju atas Bi Asih, kucium lehernya, bahunya yang putih dan kubuka seluruh celanaku sehingga Bi Asih bebas memegang penisku dan telurku bergantian. Adegan ini cukup lama, berlangsung hampir sejam.., saat kulihat jam dinding sudah jam 10.30.

Lalu aku rebahkan Bi Asih di sofa panjangku.., mula-mula dia agak sedikit menolak tapi kudorong dengan tegas dan lembut, dia akhirnya menurutiku, kini aku lebih leluasa lagi menciumi buah dadanya, pelan-pelan agak turun aku ciumm perut Bi Asih, Dia tampak agak kegelian, aku semakin terangsang, aku ingat-ingat apa lagi yang harus dilakukan seperti di buku-buku porno.

Akhirnya pelan-pelan kubuka kain kebaya Bi Asih.
Dia bilang, "Eh den jangan mau apa..".
"Tidak bi tenang saja dech", aku bilang. Akhirnya kain yamg dikenakan Bi Asih terlepas dan aku buang jauh-jauh. Dia hanya memakai celana dalam saja. Eh.., biarpun dia ini orang desa tapi ternyata badannya bagus sekali seperti gitar dan sangat mulus. Betisnya indah, pahanya kencang sekali.., mungkin sering minum jamu kampung sehingga badannya terawat baik.

Aku cium perut Bi Asih lalu turun ke bawah dan turun ke bagian kemaluannya. Dia tampak mendorong kepalaku, "Jangan den..", tapi lagi-lagi aku paksa akhirnya dia diam. Setelah dia agak tenang aku mulai beraksi lagi. Celana dalamnya kutarik turun. Wah, ini dia betul-betul melawan dan tidak kuberi kesempatan, dia pegangi celananya itu.., tapi aku terus berusaha.., adu tarik dan akhirnya setelah cukup lama dia menyerah juga, tapi tangannya tetap menutupi kemaluannya. Pelan-pelan aku cium tangannya sampai akhirnya mau minggir juga dan kucium kemaluannya. Bi Asih tampak mengelinjang dan dia bilang, "Jangan Den.., jangan Den..", tapi aku menciumnya terus, akhirnya suaranya hilang, yang terdengar hanya napasnya saja yang terengah-engah. Di bagian tengah vaginanya agak ke atas vagina Bi Asih ada daging agak keras seperti kacang mungkin clitoris. Nah, clitorisnya ini aku jilat-jilat dan kadang-kadang aku emut-emut dengan bibirku.

Aku cium terus vagina Bi Asih dan tahu-tahu aku merasakan sesuatu yang agak basah dan bau yang khas. Bi Asih tampak menggoyang-goyangkan kepalanya dan pantatnya mulai goyang-goyang juga. Cairan yang keluar dari vagina Bi Asih makin banyak dan makin licin. Ah, aku sudah tidak tahan lagi rasanya.., lalu kubuka kaos bajuku dan aku sekarang sama-sama bugil dengan Bi Asih. Aku periksa lagi vagina Bi Asih. Yah masih seperti tadi malam tidak keliatan lubang apa-apa cuma daging-daging merah jambu mengkilat karena basah. Aku coba tusuk pakai jari tanganku dan ternyata ada juga lubangnya tapi kecil sekali ketika kuraba dengan jari tanganku, rupanya lubang itu tertutup oleh lapisan daging. Aku pikir apa cukup ya lubang ini kalau di masukin penisku. Aku penasaran lalu aku bangun dan belutut di pinggir sofa dan penisku aku arahkan ke vagina Bi Asi

Bi Asih nampak terkejut melihat aku telanjang bulat dan dia hendak mau bangun dan bilang, "Den jangan sampai ketelanjuran.., ya tidak boleh..".
Aku bilang, "Iya bi tenang saja.., aku cuma mau ngukur saja kok..", dan dia percaya lalu rebahan lagi sambil bilang, "Janji ya den jangan di masukin punya aden ke liangnya Bi Asih".
"Iya", jawabku singkat.

Lalu aku ukur-ukur lagi lubang vagina Bi Asih dengan penisku ternyata memang penisku ini tidak normal kali karena jangankan lubang yang di dalam vaginanya yang seukuran jari telunjukku besarnya, bibir bagian luarnya saja tidak muat, aku mulai berpikir, "Wah, benar kata joko aku ini tidak normal". Lalus aku bilang ke Bi Asih, "Bi kok kayaknya lubangnya Bi Asih mampet ya.., tidak ada lubangnya..", Bi Asih mengangkat kepala.
"Tahu ya.., dulu juga penis suami bibi rasanya tidak pernah masuk sampai ke dalam".
Aku pikir yang normal aku atau Bi Asih nich.., tapi dasar sudah nafsu sekali.., tidak ada lubang.., lubang apapun jadi deh aku pikir. Vagina Bi Asih semakin basah aku pegang-pegang terus. Lalu kutarik Bi Asih bangun dan kuajak ke kamar orang tuaku.
Dia menolak, "Ech jangan den".
"Tidak apa-apa", aku bilang, aku paksa dia ke kamar orang tuaku dan aku rebahkan dia di tempat tidur spring bed, kebetulan tempat tidur itu menghadap ke kaca jadi aku bisa melihat di kaca, lalu aku naik di atas tubuh Bi Asih, dan Bi Asih agak sedikit meronta, "Den kan janji ya tidak sampai di gituin.."
."Iya dech", aku bilang.

Aku lalu turun dari tubuh Bi Asih dan berlutut di samping tempat tidur lalu kutarik kedua kaki Bi Asih sampai pantat Bi Asih tepat di pinggiran tempat tidur lalu aku ciumi lagi vagina Bi Asih, dia kelihatannya senang diciumi lalu kupraktekkan apa yang aku baca di buku porno. Aku masukkan lidahku di sela-sela vagina Bi Asih. Terasa hangat dan basah, lalu aku mainkan lidahku. Aku jilat-jilat seluruh daging berwarna merah muda yang ada di dalam vagina Bi Asih. Aku jilat terus dan kadang-kadang aku sedikit hisap-hisap bagian clitorisnya. Bi Asih tampak kegelian dan menggoyang-goyangkan pantatnya ke atas seolah-olah hendak mengejar lidahku. Terasa semakin basah vagina Bi Asih dan mungkin sudah banjir kali dan semakin banyak cairannya, semakin licin aku lalu bangun dan kudorong lagi Bi Asih ke tengah tempat tidur dan aku timpah lagi tubuhnya.

Aku ciumi lagi payudara Bi Asih yang keras dan kenyal. Dia nampak mulai menikmati lagi dan agak sedikit mengerang-erang dan mengelus-elus rambut kepalaku. Pelan-pelan aku kangkangin paha Bi Asih, mula-mula dia agak melawan tapi akhirnya pasrah dan kutaruh penisku tepat di tengah-tengah vagina Bi Asih. Pelan-pelan aku dorong penisku ke vagina Bi Asih yang sudah mulai banjir dan licin. Aku merasa bahwa sekarang kepala penisku sudah mulai terjepit oleh bibir vagina Bi Asih tapi tetap belum bisa masuk. Pelan-pelan aku tekan agak keras Bi Asih tampak agak menggelinjang dan bilang, "Aduh den jangan di toblos den..", aku tidak peduli aku tekan lagi tapi susah juga rasanya untuk sampai ke dalam vagina Bi Asih, tapi belum mau tembus juga. Aku tarik lagi sedikit ke belakang dan kudorong lagi tetap seperti tadi, tapi aku tidak menyerah kutarik dorong, tarik dorong sekitar 10 menit, dan waktu aku tarik-dorong itu terdengar bunyi, "Ceprak.., ceprok.., ceprak..", rupanya vagina Bi Asih benar-benar banjir dan tiba-tiba aku mulai merasakan ada celah yang terbuka, aku makin semangat tarik dorong, tarik dorong.

Bi Asih nampak mulai merem-melek matanya, dan terlihat matanya membalik-balik ke belakang mulutnya mendesis-desis. Aku jadi semakin bernafsu, lalu aku kulum bibir Bi Asih. Dia menyambut ciumku dengan hot sekali. Baru pertama kali ini aku berciuman jadi tidak tahu caranya, tapi aku pakai naluri saja aku hisap-hisap lidah Bi Asih. Wah, dia makin membinal dan celah di vagina Bi Asih makin terasa agak melebar dan aku merasa kalau kutekan agak keras pasti kepala penisku ini bisa masuk ke dalam vagina Bi Asih, lalu aku mengambil ancang-ancang kebetulan kedua jari jempol kakiku bisa masuk di sela-sela tempat tidur sehingga aku punya pijakan untuk mendorong ke depan.

Pelan-pelan aku hitung dalam hati sambil tarik dorong, tarik dorong satu.., dua tiga.., empat.., liima. Aku tekan yang keras penisku ke vagina Bi Asih. Bibir Bi Asih yang masih ada di dalam mulutku tiba-tiba bersuara, "Huhh.., ...
Next part ►


This page:




Help/FAQ | Terms | Imprint
Home People Pictures Videos Sites Blogs Chat
Top
.