peperonity.net
Welcome, guest. You are not logged in.
Log in or join for free!
 
Stay logged in
Forgot login details?

Login
Stay logged in

For free!
Get started!

Downloads


pemerkosaan.peperonity.net

Ventura 03

Ventura 03

Sambungan dari bagian 02

Surabaya, 2000

"Berhenti sebentar, Pak."
Sopir taksi itu memandang dari spion penumpang dengan penuh rasa ingin tahu. Kim tidak mengacuhkan pandangan sopir itu, membuka pintu mobil dan melangkah turun. Nasi pecel, itu yang terbersit di benaknya saat itu. Bapak-bapak berpakaian lusuh itu menghentikan perbincangan mereka saat Kim membungkukkan tubuhnya memasuki tenda warung yang terlihat rapuh itu. Ibu penjual nasi pecel yang masih sibuk memasang sanggul rambutnya ikut-ikutan menghentikan kegiatannya dan memandang penuh perhatian.

"Bu, nasi pecel, dibungkus, dua.."
"Eh.." ibu itu terlihat sedikit gugup.
"Bu, nasi pecel.." Kim menahan tawanya.
Seorang bapak dengan tersenyum berkata, "Jeng, 'dang digawekno, mosok wong tuku dikon ngenteni." (Jeng=sapaan; cepat dibuatkan, masa orang beli disuruh menunggu)
Ibu penjual nasi itu tergopoh-gopoh bangkit berdiri melupakan sanggulnya yang belum terpasang, dan langsung menyiapkan pesanan Kim. Melihat tingkah si ibu penjual yang kocak, Kim tak sanggup menahan tawanya, dan mendengar tawa Kim yang lepas, bapak-bapak yang sedang menikmati kopi panas mereka itu tak tertahan ikut pula tertawa.
"Boleh saya duduk di sini..?"

Bapak-bapak itu bergeser dan mempersilahkan Kim duduk, sebagian dari mereka memandang dengan penuh rasa kagum ke arah Kim. Wajar saja, di saat-saat jurang kesenjangan sosial sudah sedemikian dalamnya ditambah dengan kerusuhan di mana-mana, jarang ada orang dengan penampilan exclusive yang masih memberanikan diri untuk membeli makanan di sebuah warung kecil di pinggir jalan. Dan sekarang, Kim, seorang perempuan, melakukannya.
"Dari mana, Dik." Seorang bapak memberanikan diri bertanya.
"Ah, sekedar menghabiskan waktu, Pak." Kim menjawab sopan.
"Cewek warungan nih, hahaha.." salah seorang bapak yang lain berseloroh.

Kim melirikkan matanya tajam, membuat si bapak yang berseloroh barusan terkesiap, dan buru-buru memalingkan wajah, menyeduh kopinya untuk meredam perasaan terkesiapnya. Kim tersenyum, mendinginkan suasana yang mendadak 'garing'.
"Bukan warungan, Pak. Jalanan." canda Kim.
Bapak-bapak itu tertawa bersamaan merasakan keakraban yang mendadak timbul antara mereka dan wanita itu. Ibu penjual nasi tersenyum melihat suasana yang mendadak hangat, menyelesaikan melipat bungkusan di tangannya, dan menyerahkan pesanan Kim.

"Monggo, Bapak-bapak," Kim berkata tersenyum sebelum melangkah keluar, dibalas dengan anggukan dan senyuman dari bapak-bapak di warung itu.
"Arang ono bocah wedok koyo ngono iku." (Jarang ada anak perempuan seperti itu.) Kim masih mendengar desahan ibu penjual warung sebelum melangkah masuk ke dalam Taksi.

BAB VII

Malang, 1996

"Pin..!"
Papin menoleh dan melihat Iwan berlari kecil menghampirinya.
"Apa..?"
"Jalan yow," Iwan memegang pundak Papin dan menatap dengan pandangan memohon.
Papin tertawa, "Jalan kemana, Man..?"
"Ke sini aja, sambil nyari kopi." Iwan menunjuk ke arah plaza di sebelah kampus mereka yang terlihat di kejauhan.
"Nyari kopi saja kesana..? Ke warung saja, deh." Papin memiringkan bibirnya tanda tidak setuju.
"Ayolah, kan ujian sudah kelar. Paling tidak 'happy-happy' sedikit."
"Okay, deh." Papin menyalakan mesin sepeda motornya.

"Bagaimana ujian kamu..?"
"Kacau." Papin menyalakan rokok di ujung mulutnya..
"Hahaha, seperti di Surabaya..?"
"Sangat mirip."
Iwan tertawa. Matanya memandang ke arah orang-orang yang lalu-lalang.
"Pin."
"Yo."
"Kamu nggak nyari pacar di sini..?"
Papin tersenyum pahit, "Boro-boro pacar, cewek yang mau pendekatan sama aku saja belum tentu ada."
"Coba kamu potong rambut, lalu berpakaian sedikit necis.."
"Percuma.." Papin melambaikan tangannya menyapu angin.
"Aku ingin pacarku menyukai aku apa adanya.."

BAB VII

Sehari sebelumnya.

"Kintan, nanti siang papa dan mama ke sana."
"Duh, jangan sekarang, Ma."
"Kenapa..?"
Kim memandangi tubuh-tubuh yang bergeletakan di ruang tamu.
"Eh, teman Kintan ada yang ulang tahun nanti siang."
"Oh, begitu."
Sebuah tangan memeluknya dari belakang, meraba perutnya dan merambat ke payudaranya. "Bentar, Ma."
Kim menutup gagang telpon dan menggerakkan kakinya ke belakang, menendang dengkul Ferry yang segera menjauh sambil terpincang-pincang.
"Ma..?"
"Ya..? Ada siapa di sana..?"
"TV, Ma," Kim beralasan sambil lalu, "Kintan mau mandi, mau ke kampus."
"Baiklah, nanti kalau tidak jadi ke pesta, telpon ke rumah."
"Siap, Ma."

"Yow, bangun kalian..!"
Kim menggerakkan kakinya menendangi tubuh-tubuh yang bergeletakan di atas lantai ruang tamu. Beberapa dari mereka terbangun, mengomel dan mengusap pantat mereka yang tertendang. Kim tertawa melihat tingkah mereka, dan menuju ke kamarnya.

"Aduh, yang dua ini," Kim menghela nafas, "Hey, bangun..!"
Ina mengeluh dan membuka matanya, "Jam berapa sekarang..?"
"Jam setengah dua belas," Kim membuka lemari dan mengambil sepotong baju.
Ina mendudukkan tubuhnya, menyingkirkan lengan Andi beberapa saat yang lalu masih menempel di dadanya. Andi merasakan pergerakan gadis itu dan ikut membuka matanya.
"Loh, aku di mana..?" gumam Andi tak jelas.
Ina membungkukkan tubuhnya, mengecup bibir Andi dan bangkit dari atas tempat tidur. Kim melemparkan sepotong pakaian lain ke arah Ina, yang langsung mengenakannya.

"Bangun, Di. Sudah siang. Katanya kamu ujian jam satu..?" Kim berkata sambil memalingkan wajahnya, ketika Andi membalikkan tubuhnya yang tertelungkup di atas tempat tidur.
"Masa..?" Andi terkejut dan segera bangkit, memunguti pakaiannya di lantai. Ina membantu kekasihnya berpakaian.
Kim mengeleng-gelengkan kepalanya melihat mereka berdua, dan melangkah keluar kamar menuju ke kamar mandi.
"Ikut, Say." Ferry mendadak muncul di belakangnya.
"Nanti sabunkan punggungku, okay..?"
"Hore," Ferry bersorak, membukakan pintu kamar mandi dan mendorong Naryo yang masih sibuk menutup retsleting celananya keluar.

"Kim, aku senang kamu kembali seperti biasa."
"Memangnya aku kenapa..?"
Ferry mengusapkan sabun di tangannya ke punggung putih gadis di depannya.
"Beberapa hari terakhir kamu terlihat sedikit murung."
"Masa..?"
"Iya." Ferry mengangkat gayung dan membasuh punggung Kim dengan air.
"Ah, aku tidak merasa demikian."
Ferry tersenyum mendengar kebohongan Kim, "Sudah."
Kim berdiri dan membuang rambutnya ke belakang, "Thanks."

"Lalu..?"
"Lalu apa..?" Kim mengambil air dengan gayung dan menyiramkannya ke tubuhnya.
"Hanya menyabuni saja..?" protes Ferry dari belakang.
"Dasar," gerutu Kim, "Sini..!" Kim meletakkan gayung di tangannya ke pinggir bak mandi dan membalikkan tubuhnya.
Gadis itu melingkarkan lengannya di leher Ferry dan menempelkan dadanya yang basah ke dada telanjang lelaki itu. Ferry mendesah dan mengecup bibir gadis di hadapannya. Kim mengangkat paha kanannya dan menurunkan pinggulnya menduduki kemaluan lelaki itu, menjepitnya di lipatan pahanya. Ferry mendesah dan menekan pinggulnya ke atas.

Kim mengecup bibir Ferry dan melumatnya dengan penuh nafsu, membuat Ferry terengah dan menggerakkan pinggulnya, menggesekkan kemaluannya ke bibir kemaluan Kim. Ferry menekan tubuh Kim, mendorongnya hingga bersandar ke dinding, Kim mendesah dan mengetatkan rangkulannya pada tengkuk Ferry, mengangkat kedua kakinya dan melingkarkannya di pinggang lelaki itu. Ferry menahan bobot tubuh Kim dengan pahanya, menggerakkan pinggulnya menggesek dan menekan kemaluan gadis itu berulang-ulang.
"Fer.." Kim terengah.
Ferry memandang wajah gadis di dekapannya yang masih basah oleh air, "Ya..?"

Kim mendadak tersenyum dan menurunkan kaki kanannya, "Sakit, bego."
Ferry tertawa kecil, "Lalu..?" Pinggulnya menekan sedikit lebih keras. Kim mengaduh dan menundukkan kepalanya, mengigit hidung lelaki itu.
"Aduh," Ferry mengerang dan melepaskan pelukannya.
Kim tertawa, membiarkan Ferry yang sibuk memegangi hidungnya. Gadis itu mengambil gayung di pinggir bak, memasukkannya ke dalam air dan menyiramkannya ke tubuh Ferry yang masih memegangi hidungnya.
"Mandi, Say. Biar segar." Ferry mengumpat kalang kabut.
"Tegaa.."

Kim mengambil handuk dan mengeringkan tubuhnya. Ferry memeluknya dari belakang dan mencium tengkuk gadis itu. "Kim."
"Ya..?"
"Apa sih sebenarnya aku bagimu..?"
Kim tersenyum, membalikkan tubuhnya dan mengecup bibir lelaki itu.
"Sahabat yang aku sayangi."
Ferry mendesah nafasnya dalam-dalam, "Terserah kamu, deh."
Kim menangkap nada kekecewaan itu dalam nada suara Ferry.
"Tunggu."

Ferry melihat Kim mengambil gayung sekali lagi, dan menyiramkan sisa air dalam gayung itu ke lubang kunci di pintu kamar mandi. Terdengar suara seseorang memaki-maki dan beberapa langkah kaki yang tergesa-gesa menjauh. Ferry mengenakan handuknya dan membuka pintu, melihat Andi yang masih menatap rokok basah di tangannya.
"Padahal tinggal sebatang," ratapnya.
Kim tertawa-tawa kecil dan melangkah keluar.

BAB IX

Jojo terlempar, tendangan yang mengenai rusuk kirinya begitu keras. Lelaki itu hampir bisa merasakan setiap tulang rusuknya yang berderak patah. Matanya menatap nanar ke arah orang yang menendangnya.
"Bangsat."
Lelaki berambut panjang itu mendekati Jojo dan mengayunkan kakinya sekali lagi ke tubuh yang mesih tertelungkup itu. Jojo merasakan nyeri di tulang pipinya, pandangannya sedikit gelap sekarang. Ia dapat mendengar lelaki itu tertawa sinis saat menjambak rambutnya.

"Dengar, Tikus," lelaki itu mendesis di telinganya, "Dewi fortuna takkan menghampirimu saat ini. Bersyukurlah aku masih mengasihani nyawa tikusmu."
Lelaki itu menghantamkan kepala korbannya ke aspal.
Dari sudut matanya Jojo masih sempat menyaksikan beberapa pasang kaki itu melangkah menjauh sebelum gelap menyelimuti otaknya.

Ardi memainkan senar gitarnya dengan lincah mengikuti suara radio.
"Di, katanya minta kopi."
Ardi menatap Inge yang berdiri di depan pagar sambil membawa secangkir kopi.
"Wah, aku sampai lupa." Lelaki itu berdiri dan menghampiri gadis yang masih meruncingkan bibirnya. "Ayo, masuk dulu."
"Katanya minta kopi, akhirnya aku juga ...
Next part ►


This page:




Help/FAQ | Terms | Imprint
Home People Pictures Videos Sites Blogs Chat
Top
.