peperonity.net
Welcome, guest. You are not logged in.
Log in or join for free!
 
Stay logged in
Forgot login details?

Login
Stay logged in

For free!
Get started!

Multimedia gallery


sanggarsari.peperonity.net

Nightmare campus 5: The Illicit Conspiracy

Sore, jam 4:30, di Universitas ******, gedung D, tempat perkuliahan fakultas arsitektur, kuliah terakhir selesai sejam yang lalu, tempat itu sudah 90 persen kosong karena sebagian besar dosen dan mahasiswanya sudah pulang. Imron baru saja selesai menyapu di lantai tiga, dia berjalan membawa sapu dan ceruk hendak turun dan beristirahat di ruangnya. Ketika melewati ruang jurusan dia mendengar suara desahan disertai rintihan kecil, semakin mendekati ruangan itu, semakin jelas pula suara-suara itu terdengar. Seringai mesum muncul di wajah kasarnya, 'mangsa baru' demikian yang langsung terlintas dalam pikirannya. Mengendap-endap dia mendekati ruangan itu, namun…'sialan' katanya dalam hati, jendela itu yang bagian atasnya kaca bening tertutup tirai. Akalnya jalan, buru-buru dia ke menuruni gedung itu menuju gudang, sapu dan ceruk itu ditaruhnya lalu diambilnya sebuah bangku tinggi dan segera kembali ke tempat tadi. Dengan hati-hati dia menaiki bangku itu tanpa menimbulkan suara mencurigakan, melalui lubang angin lah dia dapat melihat sumber suara itu.

Mata Imron yang cekung ke dalam itu melotot menyaksikan apa yang dilihatnya. Di atas sofa, Pak Dahlan, dosen sekaligus ketua jurusan arsitektur sedang mencumbui payudara seorang gadis cantik. Si gadis duduk di pangkuannya dengan kaos dan cup bra tersingkap ke atas, kepalanya menengadah dengan mata terpejam sesekali mendesah. Tangan Pak Dahlan memasuki rok gadis itu mengelusi paha putih mulusnya, sebentar kemudian tangannya keluar dari rok itu, kali ini beserta sebuah kain warna putih, oh rupanya dia menarik lepas celana dalam gadis itu. Si gadis juga menggerakkan kakinya membantu celana dalam itu lolos. Setelah celana dalam itu jatuh ke lantai, Pak Dahlan melumat bibir mungil gadis itu, mereka saling kecup, lidahnya pun saling sedot, tangan Pak Dahlan meremasi payudara montok gadis itu, sedangkan tangan gadis itu melingkari punggung Pak Dahlan. Mereka demikian hanyut dalam birahi sampai tidak tahu sepasang mata sedang menintip mereka bahkan memotret mereka dengan cameraphone. Sungguh kontras perbedaan keduanya, si gadis berparas cantik dan bertubuh putih langsing, sementara Pak Dahlan bertubuh tambun dan berkulit sawo matang, rambutnya agak bergelombang dengan kumis di atas bibir tebalnya. Dari segi usianya, Pak Dahlan adalah duda berumur limapuluhan, sebaya dengan Imron, seusia dengan ayah si gadis itu.

Ternyata benar yang dikatakan kabar burung selama ini bahwa Pak Dahlan, bandot tua itu, memang bisa disogok dengan 'daging mentah' untuk mengkatrol nilai, dan hal ini berlaku bagi mahasiswi yang punya modal kecantikan. Akal bulus Imron bekerja, kalau saja dia bisa mendekati bandot tua itu, tentunya dia mempunyai koneksi dari kalangan atas yang bisa melindunginya kalau sampai terjadi apa-apa, dengan kata lain ada backing, selain itu juga dia mungkin dapat ikut menikmati korban si bandot tua ini sekaligus memuluskan aksi gilanya. Sungguh rencana jangka panjang yang cemerlang, pengalaman masa mudanya di dunia hitam membentuk dirinya untuk berpikir cepat dan jitu. Dia pun turun dari bangku dan mengetuk pintu. Imron menunggu beberapa saat sebelum pintu terbuka, pastilah yang di dalam sana sedang kelabakan menutupi kejadiannya. Pak Dahlan nongol dari pintu sambil tersenyum menutupi kegugupannya. "Eh, Pak Imron, ada apa nih, maaf ya tadi ada kerjaan yang tanggung, jadi nunggu lama nih !" katanya sambil keluar dan menutup pintu.

"Ooo…gapapa kok Pak Dahlan, harusnya kan saya yang maaf karena udah ngeganggu kalian" Kata terakhir itulah yang membuat raut wajah Pak Dahlan berubah tak bisa lagi menyembunyikan rasa bersalahnya. 'Kalian' ini berarti penjaga kampus itu telah mengetahui bukan cuma dia sendiri di dalam kantornya, ditambah dia juga melihat bangku tinggi ketika menoleh ke samping. "Ahaha…Pak Imron ini, anda…!" katanya masih berusaha berkelit "Tenang aja Pak Dahlan kita ini kan sama-sama laki-laki, saya ga akan mempersulit atau memeras anda kok, malah saya ada penawaran menarik buat anda !" Imron memotong kata-kata Pak Dahlan dan meletakkan tangannya di pundak pria tambun itu. "Maksud anda ?" tanyanya lagi. Imron merangkul pundak Pak Dahlan dan menjelaskan tentang kerjasama yang ditawarkan, dengan kelicikannya dirinya dapat menjebak dan menarik wanita yang dia inginkan untuk menjadi budak seksnya, dan dengan kuasanya Pak Dahlan dapat membacking dirinya seandainya satu hari nanti ada situasi darurat, dan juga memberi bantuan informasi mengenai profil korbannya seperti korban dan nomor yang dihubungi.

Senyum kembali mengembang dari wajah Pak Dahlan, ini namanya simbiosis mutualisme atau hubungan saling menguntungkan namanya, begitu pikir Pak Dahlan, berarti dia dapat mencicipi gadis-gadis lain di luar fakultas arsitektur juga, menyediakan informasi dan melindungi baginya masalah kecil mengingat posisinya cukup terpandang di kampus itu. "Pak Imron hehehe…tau gini kenapa ga cari saya dari dulu hehehe !" Mereka tertawa-tawa dan berjabat tangan tanda terjalinnya suatu persekongkolan jahat yang akan menghantui setiap gadis-gadis cantik di kampus itu. "Pak, sekarang itu cewek di dalam gimana, kasian tuh nunggu lama dia !" kata Imron "Ok deh, biar saya omong ke dia biar kita nikmati bersama, tapi janji yah, besok kasih saya nyicipin hasil anda !" ujar Pak Dahlan dengan antusias. "Beres deh Pak, pokoknya saya jamin Bapak juga seneng kok !" Merekapun masuk ke dalam, Pak Dahlan memanggil gadis itu keluar dari persembunyiannya di bawah meja kerja. Dia sempat kaget melihat ada orang lain yang ikut masuk. "Maaf ya Fan, mari saya jelaskan sebentar…" Pak Dahlan menjelaskan masalahnya dan meyakinkannya agar tidak perlu kuatir skandal ini terbongkar dengan jaminan jabatannya.

Gadis itu lalu dikenalkannya pada Imron. Dia bernama Fanny, 21 tahun, seorang gadis indo bule dengan tinggi 167 cm, berat 49 kg dan berdada 34C, lekuk tubuhnya indah bak biola ditunjang kaki yang panjang dan mulus, rambutnya berwarna kemerahan sebahu, wajahnya pun cantik apalagi saat itu dia memakai soft lens hijau. Terlepas dari itu semua dia adalah mahasiswi yang dikenal bispak dan tukang gonta-ganti pacar. Karena nilai UTS nya yang jeblok, dia nekad menggadaikan tubuhnya ke bandot tua yang kebetulan mengajar mata kuliah yang itu dengan tujuan memperbaiki nilainya. Fanny awalnya merasa risih harus melayani orang rendahan seperti Imron, ditambah lagi tatapan mata Imron yang penuh aura kemesuman. Dia lalu disuruh duduk di sofa diapit kedua pria itu. Imron menatap kagum bentuk tubuh Fanny yang ideal yang terbungkus kaos kuning ketat dengan bawahan rok putih yang menggantung 5cm diatas lutut, putingnya nampak tercetak karena tidak sempat membetulkan letak bra-nya yang tersingkap waktu Imron datang tadi.

Imron mulai membelai lengan mulus Fanny sehingga membuatnya merinding, di sebelah kanannya Pak Dahlan juga kembali merangkul tubuhnya. Lengannya yang gempal masuk lewat bawah bajunya dan mencaplok payudaranya. Pak Dahlan mencaplok bibir Fanny dan melakukan French kiss yang panas. Fanny sendiri semakin naik gairahnya karena remasan Pak Dahlan pada payudaranya dan di sebelahnya Imron juga sudah memegang putingnya dengan dua jari dari luar kaos ketatnya, lalu dia menunduk mengisap puting itu sehingga liurnya membekas di kaos kuning itu. Fanny dengan pasrah merenggangkan pahanya ketika tangan Imron menjalar ke sana, birahinya yang belum tuntas membuatnya menerima kehadiran tamu tak diundang itu. "Eemmhh…mmmhh !" terdengar lenguhan nafasnya di sela-sela ciuman ketika Imron menyentuh bagian kemaluannya yang sudah tidak tertutup celana dalam. Imron mengangkat kaki kiri Fanny ke sofa sehingga pahanya terbuka dan menampakkan kemaluannya yang berbulu jarang. Tidak puas cuma memainkan puting itu dari luar, disingkapnya kaos gadis itu mengeluarkan payudaranya, segera terlihat jempol Pak Dahlan sedang menggosok-gosok puting kanannya. Imron memainkan vagina Fanny dengan dua jari sambil mengenyot payudara kirinya, sementara tangan satunya mengelusi pahanya.

Tanpa melepas ciuman, tangan Fanny meraih selangkangan Pak Dahlan dari luar celananya. Dipijatnya bagian yang sudah menggelembung itu dengan lembut. "Hehehe…udah gatel yah Fan, bentar yah Bapak buka dulu !" Pak Dahlan melepas ciuman untuk membuka celananya. Fanny tertegun melihat penis Pak Dahlan yang panjangnya sekitar 17cm, hitam dan mengacung diantara pahanya yang besar dan berbulu. Saat itu Imron juga menarik lepas rok yang dikenakan Fanny disusul melucuti pakaiannya sendiri hingga bugil. Perhatiannya beralih sejenak dari penis Pak Dahlan ke tubuh Imron yang lebih berotot dengan bekas luka di dadanya, kulitnya hitam kasar karena sering mengerjakan pekerjaan keras dan dimakan usia, panjang penisnya tak beda jauh dari Pak Dahlan, namun lebih gagah dan keras, terlihat dari guratan-guratan urat di sekitarnya. Belum ditusuk Fanny sudah merasa dirinya luluh lantak tersugesti oleh apa yang dibayangkannya sendiri.

Fanny disuruh menungging di sofa, tangannya menggenggam penis Pak Dahlan dan mulai menjilati kepala penisnya sesuai permintaan pria itu. Sambil mengoral Fanny merasa ada sesuatu yang basah di bawah sana, ternyata Imron sedang menjilati bongkahan pantatnya yang montok. Tubuh Fanny menggelinjang, apalagi waktu mulut Imron bertemu dengan vaginanya, lidah itu beraksi dengan ganas di daerah itu membuatnya semakin becek. "Diisep Fan !" perintah Pak Dahlan yang langsung dituruti Fanny dengan memasukkan penis itu ke mulutnya, di dalam mulut dia mainkan lidahnya sehingga memberi sensasi nikmat pada penis itu. Pak Dahlan melenguh nikmat merasakan sepongan Fanny yang profesional itu, tangannya menjulur ke bawah meraih buah dadanya yang menggantung. Kini titik-titik sensitif tubuhnya diserang habis-habisan. Imron menyedot vaginanya hingga mengeluarkan suara-suara ciuman. Kenikmatan itu diekspresikan Fanny dengan semakin bersemangat mengulum penis Pak Dahlan, desahan halus terdengar di sela-sela oral seksnya.

Sementara wajah Imron makin terbenam diantara bulu kemaluan Fanny, dengan jarinya dibukanya bibir vagina itu memperlihatkan bagian dalamnya yang merah basah. Dia lalu menjilati klitorisnya dengan rakus. Fanny makin menggelinjang dan menggoyangkan pantatnya akibat sensasi yang ditimbulkannya. Imron sangat menikmati vagina itu sambil menggeram-geram penuh birahi "Yeeaahh…enak, wangi Non, sslluurrpp…sssrrpp !!" "Oohh…iyahhh…terus Fan, enak banget…emut terus !" Pak Dahlan juga blingsatan karena sepongan Fanny, dia meremasi rambut gadis itu sesekali juga payudaranya. Tiba-tiba Fanny menghentikan sepongannya dan mengerang tertahan, dia lepaskan sejenak penis Pak Dahlan dari mulutnya. Wajahnya meringis karena di belakang sana Imron mendorong penisnya ke vaginanya. "Uuhhh…pelan-pelan Pak, oohh…oohh…!!" rintihnya dengan menengok ke belakang melihat penis itu pelan-pelan memasuki vaginanya. Fanny merasakan vaginanya penuh sesak oleh penis itu, benda itu bahkan menyentuh dinding rahimnya. Melayani orang seusia Imron memang bukan yang pertama kali, karena pernah juga dia 2-3 kali melayani om-om setengah baya dengan bayaran tujuh digit, namun mereka tidak seperkasa yang satu ini, Pak Dahlan yang sedang dia oral pun penisnya tidak sekeras dan sepadat Imron.

Imron mulai menggerakkan pinggulnya maju-mundur, gesekan-gesekan nikmat langsung terasa baik oleh yang si penusuk maupun yang ditusuk. Fanny menggelinjang nikmat, tubuhnya melengkung ke belakang, mulutnya mengeluarkan erangan. Erangan Fanny lalu teredam karena Pak Dahlan menekan kepalanya dan menyuruhnya mengoral penisnya kembali. Fanny pun mencoba kembali berkonsentrasi pada penis Pak Dahlan di tengah sodokan-sodokan Imron yang makin kencang. "Pelan-pelan aja toh Pak Imron, ntar anu saya kegigit gimana ?" himbau Pak Dahlan melihat Fanny agak kesulitan mengoral penisnya karena tubuhnya berguncang terlalu hebat. ...
Next part ►


This page:




Help/FAQ | Terms | Imprint
Home People Pictures Videos Sites Blogs Chat
Top
.