peperonity.net
Welcome, guest. You are not logged in.
Log in or join for free!
 
Stay logged in
Forgot login details?

Login
Stay logged in

For free!
Get started!

Text page


tafakur.peperonity.net

Potret Ngeri Negeri

<<>>*[[]]*<<>>

Renungan

<<>>*<<>>[[]]<<>>*<<>>

<<>>*[[]]*<<>>

Kecintaan manusia kepada orang tua,
anak-anak, sahabat, dan orang-orang "istimewa" disekitar, bukan hal yang aneh, bahkan salah satu tabiatnya.
Namun sering kita berlebihan memberikan kecintaan, tanpa kita sadari.
Cinta itu berjuang pada kebutaan diri dari kekurangan orang yang kita cintai itu.
Seorang pecinta cenderung selalu menaati yang dicintainya.
Wajar, karena dalam cinta semua hal nampak indah.

Suatu hari, dari mulut shahabat Umar bin Khaththab pernah tercetus pernyataan;
cintanya kepada Allah dan RasulNya begitu tinggi, namun cinta itu tidak melebihi cintanya kepada dirinya sendiri.
Apa kemudian jawaban Rasulullah terhadapnya? Ternyata Rasulullah malah menandaskan bahwa itulah bukti keimanannya yang belum sempurna, hingga kecintaan terhadap Allah dan RasulNya melebihi kecintaan kepada dirinya sendiri dan lainnya.

Saat orang lain mengusik orang yang kita cintai, serta merata diri kita merasa terusik pula.
Akhirnya dengan sukarela kita kerahkan segala upaya untuk melakukan pembelaan dan pengorbanan bahkan terhadap sesuatu yang paling berharga sekalipun.

Sesungguhnya kita tidak perlu marah membabi buta ketika orang lain mengkritisinya, apalagi jika dianggap kurang sesuai dengan timbangan sebenarnya.
Secara sadar kita mengakui bahwa manusi memang memiliki kecenderungan untuk berbuat kesalahan (fujur) dan ketaqwaan.
Tiada satupun manusia yang ma'shum, terpelihara dari kealpaan dan kesalahan, kecuali para Rasul dan Anbiya'.
Kemarahan itu semakin
menjadi-jadi ketika kritik yang sesungguhnya nasehat, disampaikan dengan cara yang menurut kita tidak etis.
Orang lain yang mencoba melontarkan kritikan buru-buru kita cap ini dan itu, kita menganggapnya sebagai manusia kurang kerjaan, orang usil yang iri dengan ketenaran orang lain.

Walau lubuk kita yang paling dalam lebih cenderung untuk memihak kebenaran, disaat itu kita sulit membedakan mana sesungguhnya yang menjadi obyek kritikan itu, apakah materi yang dibawa oleh seseorang ataukah manusia penyampai materi itu, karena keduanya telah bersekutu dan sangat sulit untuk dipisahkan.

Kebenaran yang hakiki akan tetap benar, tidak pernah berubah walaupun berjuta manusia mencoba mengotori dan menyelimutinya hingga kebenaran redup, samar dan tak bercahaya.
Sejarahpun telah mencatat bahwa akan selalu ada manusia yang membela dan menjaganya.

Ketika kita dapati ternyata kebenaran terbungkus oleh selimut indah yang ada dibalik argumentasi cendikiawan, nasehat da'i yang karismatik, pidato orator ulung, perintah penguasa yang terlihat adil, atau perkataan teman dan sahabat yang sulit bagi kita untuk mengatakan tidak dan sebagainya.
Maka mulut, tangan atau hati kita harus segera melakukan konsekuensi logis berbentuk pembelaan kepada kebenaran, hingga ia kembali bersinar.
Tentu kadar aksi yang kita berikan akan berbeda tergantung pada kemampuan kita masing-masing.
Kita harus mengambil peran itu seberapapun kecilnya.
Jika tidak, atau sedikit saja kita terlambat melakukannya niscaya orang lain akan melakukannya.

Dan apakah kecintaan kita diletakkan untuk organisasi, calon penguasa, partai atau orang yang kita elukan namanya dan kita anggap suci?
Ataukah kecintaan itu kita letakkan pada kebenaran hakiki?
Hingga rela kita bela mati-matian bahkan dengan taruhan nyawa kita sendiri?
Hanya nurani kita yang mampu menjawabnya.

Akhirnya semoga kecintaan kita pada manusia tidak mengalahkan kecintaan kita kepada kebenaran.
Wallahu A'lam

<<>>*[[]]*<<>>
Batavia,
Jumadil Akhir 1429H
<<>>[[]]<<>>


This page:




Help/FAQ | Terms | Imprint
Home People Pictures Videos Sites Blogs Chat
Top
.