peperonity.net
Welcome, guest. You are not logged in.
Log in or join for free!
 
Stay logged in
Forgot login details?

Login
Stay logged in

For free!
Get started!

Multimedia gallery


thegladiators.peperonity.net

Tante Karina

Tante Karina adalah assisten ibuku di kampus Universitas swasta di kotaku, Solo. Usianya sekitar 25 tahun, tinggi 165 cm, berat 45 kg, ukuran dada 34B dan telah menikah 3 tahun yang lalu dengan seorang pria yang kini lumpuh akibat kecelakaan mobil. Kadang aku suka mencuri-curi pandang ke arahnya ketika ia berkunjung ke rumah untuk bertemu ibu.
Karena seringnya ia datang sehingga aku pun akrab dengannya. Dan aku pun senang dengan Tante Karina. Wajah Chinese campuran Indonesia itu terkadang membuatku berkhayal yang bukan-bukan. Memang Tante Karina memiliki gen Thionghoa dari neneknya.

Dan aku punya pengalaman yang sangat menarik dengan Tante Karina.

ting..tong.. Bel pintu berbunyi samar karena kalah oleh gemuruh lebatnya hujan yang turun sore itu. Aku terpaksa turun tangan membuka pintu karena di rumah tidak ada siapa-siapa lagi. Orang tuaku sedang ke rumah nenek di Jepara sedang Mbok Tini juga pulang kampung karena anaknya menikah.
Aku terkejut ketika tahu siapa yang berdiri di depan pintu dengan basah kuyup. Tubuhnya tampak menggigil menahan dingin. 'Tante...! Ayo masuk,' Tante Karina langsung masuk. 'Tante boleh numpang mandi ya?' tanyanya sambil berlari menuju kamar mandi tanpa malu-malu lagi karena sudah terbiasa dengan keluarga ibuku. Tapi ia melupakan handuk dan pakaian gantinya.
'Tante...ini pakaian ganti sama handuknya,' kuketuk pintu kamar mandi. Tante Karina membuka pintunya lalu kepala dan pundaknya nongol dari balik pintu. 'Makasih ya, Di!' katanya sambil mengulurkan tangannya menerima handuk dan pakaian sehabis mandi milik ibuku. Ketika itu aku terpesona melihat pundaknya yang putih. Aku pun membayangkan bagaiman indahnya tubuh bugil di balik pintu ini.

Sambil menunggu Tante Karina mandi, akupun membuatkannya teh manis hangat. Kemudian aku mengunggunya di ruang tengah sambil membaca buku Trio Detektif. Setelah sekitar 15 menitan, Tante Karina keluar dengan handuk melilit di kepalanya. Rupanya ia baru habis keramas. Aroma wangi tercium dari tubuhnya.
'Silakan diminum dulu tehnya Tan, biar hangat!' kataku. Tante Karina duduk di sofa panjang di sampinku. Lalu ia pun meminum teh buatanku itu. 'Kok sepi, Di. Ibu ke mana?' tanyanya heran. 'Pada nengok nenek ke Jepara, nenek sakit.' Tante Karina mangut-mangut, 'Kapan pulangnya?' tanyanya lagi. 'Tadi di telepon bilangnya sih lusa tapi nggak tahu kalau berubah lagi. Memang kenapa, Tan?'
'Nggak kok. Eh..Sebenarnya tadi tante nggak niat kemari tapi waktu di depan jalan masuk ke perumahan ini tiba-tiba ban mobil tante kempes. Jadi langsung aja tante kemari naik ojek.' ceritanya. Ia meminum habis tehnya.

DUAARR...!!!
Suara guntur terdengar begitu menggelegar hingga membuatku sangat terkejut dan membuat Tante Karina terlonjak memeluk leherku.
Karena lonjakannya itu membuat tali pengikat baju yang ada di pinggang Tante Karina menjadi terlepas dan membuat payudaranya yang putih dengan puting susunya yang kemerahan meloncat keluar dari pakaiannya serta bagian selangkangannya yang menghitam terlihat dengan jelas oleh mataku. 'Tante...!' bisikku. Wajah Tante Karina hanya berjarak 10 cm dari wajahku.
Kurasakan hembusan nafasnya yang hangat begitu menderu-deru. Kutatap matanya dan kulirik payudara dan vaginanya yang terbuka. 'Aldi, kamu suka itu?' Tante Karina bertanya sambil memegang tanganku. Ia menuntun tanganku lalu mengusap-usapkan tanganku ke dadanya. 'Remas, Di!' bisiknya sambil memejamkan matanya. Akupun tidak menyia-nyiakan kesempatan itu.
Kuremas dengan perlahan payudara Tante Karina yang masih padat. Terasa nikmat sekali meremas buah dada yang empuk dan kenyal itu. Apalagi tonjolan putingnya terasa sekali di telapak tanganku. 'Ohh..Terus, Di!' Tante Karina mendesah keenakan. Lalu kurasakan ia menyentuhkan bibirnya ke bibirku kemudian ia pun melumat bibirku. Lidahnya menari-nari dalam mulutku yang menimbulkan rangsangan.
Tante Karina melepaskan bibirnya lalu menekan kepalaku ke dadanya sambil melepaskan pakaian yang ia kenakan. Dengan tubuhnya yang telanjang bulat akupun semakin bernafsu. 'Ouch...enak sekali, Di.' Tante Karina membelai punggungku sementara aku memutar lidahku mengelilingi bulatan indah di dadanya itu. Sungguh nikmat sekali dan akhirnya putingnya yang mulai mengeras kukulum dengan nikmat.
'Aldii..ohh..hebat...satunya lagi, Di!' erang Tante Karina. Aku berpindah ke dada yang satu lagi setelah terlebih dahulu membenamkan wajahku di antara payudara Tante Karina, dan hal itu adalah yang aku impikan selama ini. Tante Karina megap-megap ketika aku menjilat dengan buas. Seluruh permukaan payudara Tante Karina basah oleh air liurku.
Akupun akhirnya turun ke sela paha Tante Karina setelah membenamkan wajahku di sela payudaranya dan menyapu perutnya dengan lidahku. Saat itu Tante Karina menggeliat geli namun ia terlihat begitu menikmatinya walau dada dan perutnya basah oleh air liur. Kutatap belahan yang tersembunyi di balik lebat rambut kemaluan Tante Karina. Perlahan kusibakkan rambut itu dan kubuka liang vaginanya dengan jempol.
'Aldiii..hmm..ohh..akhh..nikmat, Di..!' erang Tante Karina ketika klitorisnya yang bulat merah itu kujilat dengan buas. Vaginanya yang beraroma Resik-V itu membuatku semakin bernafsu. Lidahku terus bermain mengubek-ubek isi kewanitaan Tante Karina. Sementara Tante Karina terus mendesah nikmat sambil mengeramasi rambutku hingga acak-acakan.

'Ough..hh..akhh..!' Tante Karina menegang dan berkelojotan beberapa kali sementara dari vaginanya keluar air mani yang berwarna bening. Kubiarkan air itu meleleh di belahan vaginanya hingga kurasakan tangan Tante Karina menarik kepalaku dari sela pahanya. Dikecupnya hidungku lalu ia kembali melumat bibirku dan aku membalas dengan nikmat.
Tangan Tante Karina bergerak melepas kemejaku dan aku melepaskan celana tanpa melepaskan bibir-bibir kami. Mataku terpejam ketika tangan lembut Tante Karina membelai tongkat saktiku yang telah ereksi. Tante Karina memperkuat ciumannya dengan menyedot bibirku dan tangannya mulai mengocok. Aku ingin sekali mengerang nikmat tapi mulutku sedang berpagutan.
Maka jadilah dada Tante Karina jadi sasaran. Tapi ternyata remasanku malah membuat Tante Karina mempercepat kocokannya. Dan di saat itu aku langsung melepaskan tangan Tante Karina. 'Kenapa, Di?' tanyanya. 'Mau keluar, Tante.' ternyata jawaban itu membuat Tante Karina makin bernafsu. Ia pun segera mengulum penisku dan meremas biji pelirku.
Kurasakan semua terasa nikmat. Mulut Tante Karina membuatku meledak. 'Akhh...ahhh..ahh..ohhh...!' aku kelojotan nikmat ketika sperma hangatku muncrat di dalam mulut Tante Karina yang masih mengulum. Kulihat ia masih menjilati sisa-sisa sperma yang keluar dari ujung kepala penisku yang besar sehingga membuat mulutnya penuh dengan daging berwarna coklat itu.

Aku merasa seluruh sendi tubuhku lemas. Melihatku yang mulai lelah, Tante Karina memainkan lurus mautnya yang ternyata mampu membuatku bergairah lagi. Ia membalikkan tubuhku lalu mulailah ia menjilati lubang duburku. Dan walau aku jijik jika melakukannya tapi aku sangat menyukainya. Geli yang mampu membuat penisku kembali tegak.

Tante Karina bangkit dan berdiri di depanku yang masih duduk. Kutatap tubuh mulus itu. Dan tanpa kusadari tangan Tante Karina sudah memegangi penisku, kemudian dengan cepat ia menurunkan tubuhnya dan memasukkan penisku ke dalam lubang kewanitaannya. 'Ohh...ahh...!' kami mendesah bersama dengan mata terpejam saat penisku amblas masuk ke dalam vaginanya.
Tante Karina bergerak dengan cepat dan aku menikmatinya sambil meremas dada Tanteku yang bulat itu. Kurasakan cengkraman tangan Tante Karina semakin menguat dan erangannya semakin memburu. Begitu juga aku yang masih belum punya jam terbang seperti Tante Karina yang sudah menikah. Hingga akhirnya...
'Akhh...akhh...ahhh...hhh...!' aku peluk tubuh Tante Karina yang jatuh ke atasku dengan erat. Kami kelojotan dengan mata mendelik nikmat merasakan puncak kenikmatan yang luar biasa nikmat. Kurasakan selangkanganku basah oleh tetesan air dari vagina Tante Karina yang masih bergerak turun naik dengan perlahan.

'Makasih, Di. Tadi sudah memberikan sesuatu yang sudah 3 tahun tidak Tante rasakan.' bisik Tante Karina. Lalu ia kembali menciumku. 'Malam ini tante boleh menginap di sini ya!' tanya Tante Karina dengan senyum yang penuh nafsu birahi. 'Tentu saja, Tan!' jawabku sambil mengambil baju yang tadi dipakai Tante Karina.
Akhirnya kami tertidur di sofa dengan saling memeluk. Kami terbangun sekitar jam 7:30 malam. Dan malam itu kembali kami bersetubuh dengan berbagai gaya hingga aku dan Tante Karina ketika orgasme cuma mengeluarkan sedikit air cinta karena sudah tersedot habis. Hingga aku kuliah, Tante Karina masih menjadi Sephiaku.

TAMAT


This page:




Help/FAQ | Terms | Imprint
Home People Pictures Videos Sites Blogs Chat
Top
.