peperonity.net
Welcome, guest. You are not logged in.
Log in or join for free!
 
Stay logged in
Forgot login details?

Login
Stay logged in

For free!
Get started!

Multimedia gallery


thegladiators.peperonity.net

Sarah Harding

Prolog :
Aku asyik mengamati seorang wanita bule yang duduk sambil menulis di bawah pohon akasia Kebun Raya Bogor. Wajahnya yang cantik benar-benar membiusku. Tinggi 175 cm dan dadanya yang kuperkirakan berukuran 35B begitu sesuai dengan kecantikannya. Aku juga begitu mengagumi rambut pirangnya yang tergerai panjang. Sesekali terlintas pikiran iseng di kepalaku yang menginginkan melihatnya telanjang bulat di depanku, lalu aku bebas menikmati setiap lekuk tubuhnya yang khas barat. Aku menilai wanita muda itu sangat berbeda dengan bule-bule yang lain. Wajahnya lebih merona sedangkan bule yang biasa kulihat terlihat pucat. Kutatap lekat-lekat tonjolan di dadanya yang begitu menggoda dan begitu nampak di baju ketat putihnya. Aku membayangkan alangkah nikmatnya bukit kembar itu jika dikecup dan diremas. Penisku memegang.

Minggu 1

'Good morning, Miss!' sapaku setelah lama sekali mempertimbangkan untuk mendekat. 'Oh, selamat pagi.' Ia tersenyum. Aku kecele, ternyata ia bisa berbahasa Indonesia walau dengan logat baratnya yang khas. 'Nona bisa bahasa Indonesia?' tanyaku tetap berdiri. 'Sedikit. Silahkan duduk di sini.' ia menyadari bahwa aku masih berdiri. Aku duduk di sampingnya. Kini benarlah apa yang kulihat dari kejauhan tadi. Ia benar-benar cantik dan yang membuat dadaku berdebar kencang adalah belahan dadanya yang begitu putih mulus tersembul dari pakaiannya. 'Aku Indra. Nama nona siapa?' kuulurkan tanganku. Ia menyambutnya, 'Sarah, Sarah Harding.' ia menyebutkan namanya. 'I'm from London.' lanjutnya lagi. Aku hanya mengangguk. 'Nona penulis?' tanyaku. 'Penulis?' ia tidak mengerti maksudku. 'A writter?' aku memperjelas pertanyaanku.
'Yeah. That right. Sekarang mencoba menulis novel,' katanya seraya tersenyum manis. 'Judulnya apa?' aku penasaran. 'Indonesia and My Love.' Sarah melepaskan buku dan pulpennya lalu kedua tangannya bergerak ke belakang untuk mengikat rambutnya yang tergerai. Jantungku berdetak sangat cepat menatap dadanya yang membusung indah di sampingku. 'Saya juga suka menulis tapi cuma cerpen,' kataku lagi ketika ia sudah selesai mengikat rambutnya. 'What? Cerpen?' Sarah mengernyitkan keningnya menandakan ketidakmengertiannya. 'Short story, Miss!' jelasku dalam bahasa Inggris. 'Panggil my name saja, oke?' pintanya. 'Oke, Sarah!' jawabku. Akhirnya kami asyik mengobrol tentang negaranya dan tentang Indonesia tentunya. Tampaknya gadis berusia 25 tahun itu belum begitu kenal Indonesia walau sudah setahun di Indonesia.

Minggu 2

'I need a guide now. Are you want to be my guide, Indra?' tanyanya ketika kami makan siang di Cafe Dedaunan. 'Saya kuliah jadi tidak mungkin untuk jadi guide,' jawabku. Sekilas kulihat rona kecewa di wajahnya. 'Kamu bisa menyewa guide lain yang lebih profesional,' aku menyarankan. 'Hari minggu tetap tidak bisa?' tanyanya lagi berharap. 'Kalau hari sabtu-minggu saya bisa karena kuliah libur.' jawabku. Kulihat sesungging senyuman menghiasi bibirnya.
Hubunganku dengan Sarah setiap hari semakin dekat. Bahkan kadang tak segan-segan ia menjemputku ketika pulang kuliah dan mengajakku keliling-keliling Bogor. Tak jarang pula aku mengajarinya menulis cerita dalam bahasa Indonesia dan begitu juga sebaliknya, Sarah pula mengajariku berbahasa Inggris.

Minggu 3

'Minggu ini aku mau ke Anyer. Kamu tau tempat yang bagus kan? Aku mau menambah bagian ceritaku di sana.' aku mengangguk. Sebenarnya aku kurang setuju pergi ke Anyer karena tempatnya kurang bagus tapi Sarah tidak suka jika keinginannya ditolak. Kemarin saja ia sempat merajuk ketika ketika keinginannya pergi ke Pelabuhan Ratu kutolak, sehingga akhirnya dengan terpaksa aku pun menyetujuinya. 'Nanti sore aku jemput.' katanya ketika mobil Honda Civic-nya sampai di depan gang ke kost-ku. 'Iya,' jawabku sambil mengangguk. Aku pun beranjak mau turun. Dan tiba-tiba tangan Sarah memegang tanganku dan meremas jemariku. 'Indra, terima kasih atas perhatianmu,' bisiknya dan kurasakan nafasnya mengalir hangat di wajahku. Aku tak percaya ketika bibir Sarah mengecup lembut bibirku.

Aku dan Sarah menikmati suara gemuruh ombak dan indahnya rembulan dari bungalow sebuah hotel di pinggir pantai Anyer. Sekitar 15 menit berlalu kami masih membisu. Hingga akhirnya Sarah membuka pembicaraan. 'Indra, bolehkan aku bilang sesuatu?' tanyanya sambil membalikkan badannya ke arahku. 'Boleh. Ada apa?' tanyaku. Kutatap wajah cantik itu dalam-dalam. Ia juga menatapku. 'Seharusnya aku pulang ke Inggris minggu lalu, tapi aku memperpanjang masa tinggalku di sini karena aku suka dan cinta Indonesia. Dan juga...sebenarnya aku menyukaimu. Aku ingin jadi warga Indonesia dan selalu dekat denganmu.' penjelasan Sarah membuatku begitu terkejut. 'Sarah...Aku juga suka sejak pertama kali aku melihatmu.' jawabku sambil memegang lengannya. Ia tertunduk.
Kuangkat dagunya lalu dengan perlahan kukecup lembut bibirnya. Ia membalasnya. Dan tidak lama kemudian, kamipun paling melumat. Sarah memainkan lidahnya di dalam mulutku yang kemudian kuisap. Aku terus mencium Sarah sementara tanganku turun meraba lehernya hingga hinggap di dadanya. Sarah tidak menolaknya dan malah tubuhnya menggeliat nikmat ketika aku meremas payudaranya itu dari balik pakaiannya. 'Kita masuk, ya!' kataku sambil mengangkat tubuh Sarah masuk ke kamar. Di dalam kamar kembali kami berciuman sambil berpelukan dengan erat. Namun aku tidak tinggal diam. Aku mulai meremas bokong Sarah yang seksi. Terasa empuk dan kenyal walau kalah empuk jika dibanding dengan buah dadanya tapi tetap saja terasa nikmat dan sungguh mengasikkan.

'Kamu sangat cantik, Sarah!' pujiku ketika dengan perlahan tanganku melepaskan pakaiannya. Tangan Sarah pun bergerak melepas kancing kemejaku, hingga aku dan Sarah cuma memakai pakaian dalam. 'Sarah...!' kupandangi dengan tatapan liar tubuh Sarah yang begitu indah. Ia cuma mengenakan lingere yang tipis sehingga puting susunya yang begitu indah terlihat menonjol. Tanpa menunggu waktu lagi, aku langsung melumat bibirnya dengan ganas sembari meremas dadanya lalu menyusup mencari putingnya. Sarah menggelinjang ketika puting susunya yang sudah mengeras itu kupelintir dengan lembut. Mendapat serangan yang dasyat itu membuat Sarah menjadi lebih agresif. Tangannya bergerak menyusup ke celana dalamku dan meremas-remas penisku yang sudah sangat tegang.
Bibirku turun ke lehernya. Wangi yang tercium menambah gairahku. Leher yang berkulit putih itu kulumat hingga menimbulkan bekas merah. Desahan nikmat mengalir dari mulutnya. Namun aku tidak berlama-lama di lehernya. Segera kubuka bra putih Sarah. 'Indah sekali,' bisikku sambil mengecup daging yang menonjol itu. Dan aku pun melahabnya dengan nikmat. 'Oohh...Indra, I love you, ohh...!' Sarah membelai rambutku dengan rasa yang nikmat karena puting susunya yang terasa sangat kenyal sedang kukulum. Suasana kamar terasa sangat menyenangkan dengan erangan dan rintih nikmat Sarah. Lalu aku turun ke perutnya setelah membenamkan wajahku di dadanya yang ternyata berukuran 36B. Sarah menggeliat geli sambil tertawa kecil ketika lidahku menusuk-nusuk di pusarnya. Sarah tak kuat menahannya dan tubuhnya rebah di atas ranjang.
'Oh...Sarah!' kubelai segitiga emas milik Sarah lalu dengan cepat melepasnya. Aku sungguh tidak percaya bisa menyaksikan indahnya milik Sarah. Sebuah vagina dengan rambutnya yang sangat tipis sehingga belahan vaginanya yang memerah tampak begitu jelas. 'Ohhh...In...dra...nikmat...!' erang Sarah ketika bibirku melumat vaginanya. Clit perawan itu terasa basah oleh cairan vaginanya. Aku terus menjilat dan sesekali memagut labira mayora-nya sehingga membuat Sarah kelabakan. Ia menjerit nikmat sambil meremas buah dadanya sendiri. 'Indra...I'm going mad...akhhh...I'm orgasm...ahh...!' erangan panjang Sarah terdengar begitu nikmat dan disusul tubuhnya memegang hingga akhirnya kembali ambruk setelah beberapa saat mengapai puncak kenikmatan itu.

Aku berbaring di samping Sarah yang masih memenangkan dirinya. Ciuman lembut mendapat di bibirnya. Namun ia membalas dengan ganasnya. Dengan cepat bibir Sarah menyusuri tubuhku hingga kurasakan penisku sudah berada dalam mulutnya. 'Ahh...ohh..Sarah, terus sayang!' mulut Sarah tampak penuh oleh penisku yang seperti pisang ambon. Aku benar-benar mabuk dibuatnya. Isapan dan jilatannya terasa sangat nikmat. 'Cukup...Sarah, enough...!' kuangkat kepala Sarah dari penisku. Kubaringkan tubuh Sarah dan langsung kutindih.
'I am still virgin, Indra.' kata Sarah begitu pasrah ketika akan menyerahkan sesuatu yang begitu berharga dari dirinya yaitu keperawanan. Aku tersenyum lalu kukecupi lehernya. Dan bless...Batang penisku menerobos masuk namun ternyata susah sekali karena begitu sempitnya gua kenikmatan Sarah. 'Be carefull...Ohh..!' kulihat Sarah memejamkan matanya sambil menggigit bibir bawahnya ketika seluruh batang milikku terbenam di dalam kelamin kewanitaannya. 'Sarah, kamu cantik sekali malam ini,' bisikku di telinganya sambil menggoyangkan pinggulku dengan sangat hati-hati. Sarah membuka matanya, 'I am feel good now!'. Aku pun tak kuasa lagi untuk menggenjot tubuh Sarah dengan lebih bertenaga. 'Ahh...ohh..h...!' hanya itu yang terdengar di kamar itu sambil sesekali meracau tak karuan karena nikmat yang tak tertahankan yang kami rasakan.

'I am going mad...Ohh...Indra...I am cum, Honey!' erangnya. 'I am too, Sarah...!' kupeluk tubuh Sarah yang telah lebih dulu bergetar dengan hebat. Tak ada desahan yang panjang karena mulutnya kukulum. Tubuh kamipun ambruk setelah mengejang melepaskan semua beban yang menekan. Beberapa saat aku masih menindih tubuh Sarah menikmati sisa-sisa kenikmatan yang telah diberikannya.

Aku berguling ke samping Sarah yang masih membisu. Namun tiba-tiba ia menangis. Aku pun bingung melihatnya. 'Sarah, what happen? Are you regret it?' tanyaku. Ia menggeleng. 'Aku sangat bahagia. I dont believe. Aku tak percaya jika akan merasakan jatuh cinta dengan orang Indonesia. I love you so much, Indra!' jawabnya. Ia menyeka air matanya lalu kami kembali saling memagut dengan nikmat.


'Good night, Honey!' bisiknya. Kupeluk tubuh Sarah dan kami pun tertidur. Debur ombak membawa kami mengarungi mimpi yang indah.

Epilog :

Kini aku tinggal di sebuah rumah di kawasan Tanggerang bersama istri dan seorang anak laki-lakiku, Sarah Harding dan Dody Wijaya Harding.

**the end**


This page:




Help/FAQ | Terms | Imprint
Home People Pictures Videos Sites Blogs Chat
Top
.