peperonity.net
Welcome, guest. You are not logged in.
Log in or join for free!
 
Stay logged in
Forgot login details?

Login
Stay logged in

For free!
Get started!

Multimedia gallery


thegladiators.peperonity.net

Petualang Sex 2

...Malam itu hujan turun sangat lebat. Beberapa kali kilat menyambar disertai gemuruh yang dasyat. Angin pun bertiup kencang, mengayun dan memainkan dedaunan. Sementara itu aku duduk di kursi belajarku dengan agak tegang setelah meminum viagra 100 yang kupersiapkan untuk 'pertempuran' yang sesungguhnya setelah latihan tadi malam yang telah menghilangkan keperjakaanku.
Jam dinding di kamarku menunjukkan pukul 21.00 ketika terdengar ketukan di pintu kamarku. 'Ron, kamu belum tidur kan?' panggil Bi Rina. Ah, akhirnya ia menyerah juga. 'Belum, Bi. Ada apa? Kok wajah bibi merah gitu?' tanyaku pura-pura. 'Nggak tahu nih. Badan bibi tiba-tiba nggak enak. Kamu bisa pijit bibi kan?' tanyanya sambil melangkah masuk ke kamarku.
Bi Rina yang memakai daster tanpa lengan itu kemudian duduk di atas karpet permadani yang terhampar di lantai kamarku. Ia tampak seperti orang kecapekan padahal di nafsu birahi bergemuruh di dalam dadanya. Aku duduk di dekatnya. 'Mau pakai minyak angin ngaak, Bi?' tawarku blagak pilon.
'Nggak usah, Ron. Pijit biasa aja,' Bi Rina membalikkan badannya. Aku pun mulai memijit-mijit bahunya dengan lembut. Bi Rina sangat menikmati sentuhan-sentuhanku. Bahkan ia tidak menolak ketika tanganku agak memijit bokongnya. Kurasakan penisku sudah tegak mengacung dari balik sarung.
Aku tahu bahwa Bi Rina sudah sangat terangsang, karena keringat di tubuhnya sangat banyak padahal hari begitu dingin. Aku juga tidak tahan lagi, maka kuraba buah dada Bi Rina dari belakang. Upps...ternyata ia tidak memakai BH, tanganku merasakan ada benjolan puting susunya. 'Ohh...Ron!' Bi Rina agak kaget tapi ia tak menolaknya.
Bi Rina memegang tanganku lalu menekannya lebih keras. 'Kamu suka ini, remas Ron!' bisik Bi Rina sambil melepas kancing dasternya dan menurunkannya hingga perut. Ia menyandarkan punggungnya ke dadaku. 'Bi...Rony terangsang,' bisikku polos. Bi Rina memejamkan matanya ketika tanganku meremas dadanya dengan lembut. 'Terus Ron, enak!'
Di bawah terangnya lampu, aku pun menciumnya dari belakang. Bi Rina membalasnya dengan nafas yang memburu. Tanganku terus meremas lalu tangan yang satu lagi turun ke selangkangan Bi Rina. Ternyata ia juga tak memakai CD. Dari rabaan aku menusuk mencari clit-nya, lalu kugelitik dengan telunjukku. 'Ohmmm...ah...!' erangnya di sela ciuman.
Aku terus melumat, meremas dada Bi Rina secara bergantian hingga memainkan putingnya yang mengeras, dan menggelitik clit-nya yang basah. Tidak sampai 5 menit kurasakan Bi Rina mengejan nikmat. 'Ron...Ahkhh...ohhh!!' kurasakan vaginanya jadi sangat basah. Rupanya ia orgasme, segampang itu jika terangsang.
Kurebahkan tubuh Bi Rina yang bersimbah keringat. Lalu aku melepaskan sarung dan bajuku. Bi Rina terperangah menatap penisku yang begitu keras. 'Punya besar banget, Ron! Panjang lagi,' tangan Bi Rina meraba penisku yang sebesar baterai besar dan panjangnya 17 cm. 'Jangan dulu, Bi. Nanti nggak bisa muasin bibi,' cegahku.
Aku kembali melumat bibir Bi Rina yang menurutku begitu sensual. Tidak lama aku turun ke leher. Bi Rina menggelinjang nikmat ketika lidahku berputar-putar sambil sesekali menusuk ke lubang telinganya. Hingga akhirnya aku sampai di buah dadanya. 'Ohh...kamu hebat, Ron! Enak sekali, ouch!' erang Bi Rina ketika mulut dan lidahku bermain
di dada kanannya. Puting susunya begitu kenyal sehingga terasa begitu nikmat. Bi Rina membelai punggungku yang basah oleh keringat dengan lembut sambil merintih nikmat. Dan dada kirinya pun tak luput dari lidahku. Kurasakan tubuh Bi Rina gemetar menikmati semua yang kuberi. Akhirnya aku turun ke sela-sela pahanya yang penuh rambut.
Kujilati bagian dalam vagina Bi Rina dengan buas sehingga membuatnya menjerit nikmat. Untung hari hujan jadi jeritannya tidak terdengar ke luar. Aku lama bermain di clit merah itu sebelum beranjak mencari g-spot Bi Rina. 'Tahan di situ, Ron. Ohh...enak sekali...akhh...ouchh...!' tiba-tiba otot-otot vagina Bi Rina menegang dan dari
dalam vaginanya muncrat cairan bening yang langsung kujilati dan kuteguk, bagus untuk kejantanan. Bi Rina masih terengah-engah ketika aku selesai membersihkan cairan cintanya. Bi Rina bangkit lalu meraba penisku dan ia membungkuk. Akhirnya penisku amblas di dalam mulutnya. 'Ahh..nikmat sekali, Bi!' erangku dan setelah beberapa saat aku pun mucrat.
Sebagai seorang wanita yang sudah menikah, Bi Rina dapat menangkap maksudku yang diam memandanginya yang begitu exiticed merasakan nikmatnya di oral. Bi Rina mendorong tubuhku perlahan hingga aku setengah duduk sambil bersandar di tepi spring bed. Kedua kakiku terbuka lebar dengan lutut menekuk.
Bi Rina mendekatkan wajahnya ke selangkanganku. 'Ughhh...Bii..!' aku sangat menikmati service Bi Rina ketika lidahnya memainkan bolaku lalu menjilat bagian bawah penisku dari pangkat sampai ujung lalu mengulumnya. 'Ahh...oohhh...!' kubelai rambut panjang Bi Rina dan menikmati yang diberikannya.

'Opps...cukup, Bi,' aku tidak mau terlalu lama dikulum karena aku mau memberi Bi Rina beberapa kali orgasme. Bi Rina berbaring pasrah di atas karpet. Libido sexnya sudah tak tertahankan lagi. Aku pun berlutut di depan selangkangan Bi Rina dan kuangkat kedua kakinya ke bahuku.
'Oughhh......ohh!' kami berdua melenguh nikmat ketika batangku menyeruak ke dalam liang senggama Bi Rina. Sungguh terasa beda sekali dengan yang kemarin. Yang ini lebih aktif dengan kontraksi otot di dinding vaginanya. 'Hangat sekali, Ron.' bisik Bi Rina. Aku pun mulai bergoyang sambil memeluk paha Bi Rina.

Ketika aku bergoyang itu, tiba-tiba listrik padam. 'Bi...Padam!' seruku agak kaget karena ruangan gelap gulita. Bahkan tubuh Bi Rina tidak nampak. 'Lanjutkan, Ron...Bibi nggak tahan lagi,' rintih Bi Rina. Mendengar permintaannya itu, segera aku kembali bergoyang. Erangan dan rintihan nikmat kami tertelan oleh suara derasnya hujan.
'Ron, bibi sampai...akhh...ahhh...aghh...!' erang Bi Rina. Ketika itu tubuhnya berkelojot-kelojot. Sementara itu kuamblaskan penisku dalam vaginanya dan kubiarkan Bi Rina menikmati orgasme ke-3 nya bersamaku. Aku bisa merasakan denyutan nikmat di vagina Bi Rina yang terasa semakin memanas. Setelah selesai, kaki Bi Rina turun ke pahaku.
'Kamu belum, Ron?' tanya Bi Rina ketika memegang pangkal penisku yang terpendam di vaginanya, masih keras. 'Belum, Bi!' jawabku. Bayang tubuh Bi Rina mulai terlihat. 'Kamu biasa ngesex, Ron?' tanya Bi Rina dengan nada penuh selidik. 'Rony baru pertama kali ini ngesex, Bi!' jawabku sambil mengusap perut Bi Rina.
'Kamu benar-benar masih perjaka kan?' ada nada cemas dari kata-kata Bi Rina. Mungkin ia takut kena penyakit. 'Benar. Rony nggak bohong. Keperjakan Rony hilang di vagina bibi,' benar kan aku nggak bohong karena kemarin malam aku 'memperkosa' Bi Rina. Kudengar hembusan nafas lega dari mulut Bi Rina.

Kaki kiri Bi Rina kuturunkan ke bawah selangkanganku dan kaki kanannya tetap di atas pahaku. Sementara itu penisku tetap di dalam vagina yang kini menjadi miring itu. 'Ini dari baca buku, Bi!' dan aku pun kembali bergoyang dengan setengah menduduki kaki Bi Rina.
Desah dan erangan nikmat kami kembali memenuhi kamar 5 x 6 m yang gelap itu. Tanganku tidak diam saja, sambil bergerak, kuremasi bokong Bi Rina dengan tangan kiriku sedang tangan kanan menggelitik clit Bi Rina yang terasa sangat basah. 'Ron, nikmat sekali...ahhh...Kamu hebat..ohhh!' erang Bi Rina.
Bi Rina semakin meracau. Dan puncaknya ia menjerit sangat keras. 'Arrgghh...Ron!' tubuhnya kelojotan lagi. Akupun tak kuasa lagi menahan air maniku ketika jepitan dinding vagina Bi Rina semakin kuat. 'Bi...Rony keluar. Arghh...akhh...ahhh...!' tubuhku kelojatan dan penisku menyemprotkan air mani ke dalam liang Bi Rina.

Kulepaskan penisku yang terasa sangat ngilu itu. Lalu di kegelapan itu kucari bibir Bi Rina. 'Oumhhh...!' suara Bi Rina menerima lumatanku. Kami berpagutan lama sekali hingga puas. Ketika aku melepaskan bibir, listrik menyala. Kini aku dapat melihat wajah Bi Rina yang begitu lelah namun puas.

Kuangkat tubuh yang indah itu ke tempat tidur lalu kuselimuti tubuh Bi Rina dan kudekap dengan mesra. Hingga kami pun tertidur pulas.

******

'Ron, bangun. Sudah siang,' kubuka mataku dan kulihat Bi Rina duduk di tepi ranjang dengan rambut basah. 'Cepat mandi. Pamanmu dah dateng, nanti ketahuan.' bisik Bi Rina mesra. Aku pun bangkit.
Sejak malam itu hingga seterusnya Bi Rina selalu minta padaku untuk memberinya sebuah orgasme yang tidak pernah ia dapatkan dari paman. Beberapa bulan kemudian Bi Rina mengandung dan ia tahu bahwa itu adalah benih dariku yang selalu kutanam saat bersenggama dengannya. Dan sejak saat itu ia memintaku untuk nge-kost saja. Aku nurut.
......


This page:




Help/FAQ | Terms | Imprint
Home People Pictures Videos Sites Blogs Chat
Top
.