peperonity.net
Welcome, guest. You are not logged in.
Log in or join for free!
 
Stay logged in
Forgot login details?

Login
Stay logged in

For free!
Get started!

Text page


tonick17.peperonity.net

spg yang sombong euy

Cerita ini muncul karena ulah SPG sombong yang menjaga pameran
otomotif di salah satu plaza di kotaku. Pada waktu itu aku dan
teman-temanku (berempat) sedang jalan-jalan ke plaza itu, lalu kami
melihat ada pameran mobil di sana. Iseng-iseng aku dan teman-teman
melihat mobil-mobil yang memang keren-keren itu, meskipun penampilan
kami memang sangat jauh dengan pengunjung-pengunjung lainnya yang
rapi-rapi. Sekalian cuci mata juga, soalnya para SPG-nya
cantik-cantik dan putih-putih serta mulus-mulus, mereka memakai rok
mini yang benar-benar serasi dengan tubuh mereka yang langsing dan
tinggi, kaki mereka yang jenjang sangat indah dipandang dari ujung
kaki sampai ke paha yang terbalut rok mini ketat warna merah. Wajah
mereka yang rata-rata Indo seperti bintang sinetron sangat
menyenangkan untuk dipandang, memang sangat cocok untuk mendampingi
mobil-mobil mewah yang sedang dipamerkan.

Sambil melihat, kupegang-pegang saja mobil yang di pamerkan dan
kucoba membuka dan metutup salah satu pintunya. Tiba-Tiba…, “Mas,
tolong kalau mau lihat ya dilihat saja, jangan dipegang-pegang, nanti
harus dibersihkan lagi,” aku menoleh ke arah teguran itu berasal,
ternyata teguran tersebut berasal dari salah seorang SPG yang cantik,
meskipun aku tersinggung, aku sempat tertegun melihat paras dan body
cewek SPG yang satu ini. Wajah SPG yang ini seperti campuran Indo
Belanda, kebarat-kebaratan seperti itulah.

Masih setengah sadar, SPG itu ngomong lagi, “Tolong minggir dulu ya..
ini ada pembeli yang mau lihat”. Aku menoleh ke sekitar, “Mana
pembelinya..” pikirku, yang ada masih lihat-lihat mobil di sebelah,
kali ini aku serasa benar-benar dilecehkan oleh SPG itu, dalam
pikiranku, “Sombong sekali cewek satu ini… padahal kan dia juga
sebagai penjaga, belum tentu bisa beli mobil itu juga.” Sambil
berpikir begitu, tak terasa aku bertatap pandang dengan cewek SPG
itu, yang lebih mengesalkan wajahnya seakan-akan melihatku sebagai
makhluk yang tidak sepantasnya berdiri di situ. Kulihat juga
senyumnya yang benar-benar menyebalkan, seolah-olah menantang dan
sudah menang. Seraya tersenyum aku minggir juga.

“Ayo, cabut!” aku mengomando teman-temanku dengan nada yang masih
kesal karena pelecehan tadi. Aku langsung mengarahkan mereka ke
tempat parkir dengan tidak menyembunyikan wajah yang kesal. Mobil
Espass kami pun meluncur. Sepanjang perjalanan, kami terdiam,
teman-temanku tahu aku masih kesal, jadi mereka agak malas ngomong.

Setelah beberapa saat Aguk yang memegang kemudi memecah kesunyian,
“Kenapa lu? masih kesal sama SPG itu?” tanyanya kepadaku. Belum
sempat aku menimpali, Bimo buka suara, “Lu nggak remas aja pantatnya,
biar tau rasa dia.” Tawa mereka berderai, tapi aku masih diam,
melihat gelagatku yang tidak bisa diajak bercanda, teman-temanku
ikutan diam. Tiba-Tiba Dodot mengeluarkan ide bagus, “Eh.. gimana
kalo kita culik aja tuh cewek!” Hatiku yang kesal ini bagaikan
mendapat siraman air yang menyegarkan, “Betul juga,” pikirku, “Biar
ntar dia rasain gimana akibatnya kalau melecehkan aku” Aku tersenyum
menyeringai ke arah Dodot, dan kami langsung memutar mobil ke arah
plaza itu lagi.

Jam sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh malam, mulai terlihat
karyawan-karyawan dari plaza tersebut keluar untuk pulang. Kami
dengan sabar menunggu di depan plaza itu sambil mengawasi orang-orang
yang keluar.
“Gimana kalau keluar dari samping pertokoan?” tanya Bimo.
“Ah.. ya berarti nasibnya beruntung,” jawabku cepat.
“Itu! itu!” Dodot setengah berteriak menunjuk ke suatu arah. Mata
kita semua langsung menjelajah ke arah yang ditunjuk Dodot.
“Bagus!” pikirku ketika melihat si SPG berjalan keluar plaza untuk
mencari kendaraan. Dia bersama seorang temannya yang kelihatannya SPG
juga, sudah mengenakan sehelai kain untuk menutupi roknya yang mini,
mereka berjalan menelusuri trotoar, rupanya rute angkutannya bukan di
jalan ini. Kami segera membuntutinya pelan-pelan sampai mereka
berhenti di perempatan yang sudah dikuasai oleh banyak angkota.
Mereka langsung masuk ke salah satu bemo yang ada, begitu bemo
tersebut berangkat, kami pun langsung mengikutinya.
Sampai di sebuah jalan, yang untungnya sepi sehingga sangat mendukung
operasi kami ini, si SPG turun. Tidak sedikit pun dia menaruh curiga
bahwa sebuah mobil telah mengikuti angkutannya sejak tadi. Setelah
bemo tersebut meninggalkannya cukup jauh, kami mulai mendekati SPG
itu yang kelihatannya masih harus berjalan kaki untuk mencapai
rumahnya. Tanpa buang-buang waktu Aguk mensejajarkan mobil kami di
samping SPG itu dan Dodot langsung membuka pintu samping Espass.
Kulihat SPG tersebut terkejut melihat ada mobil yang sangat dekat
dengan dirinya, dan tanpa disadari tangan Dodot sudah merenggut
tangan dan menarik tubuhnya ke dalam mobil. “Srreeekkk…,” pintu
samping ditutup, mobil kami langsung melaju tanpa bekas, sementara si
SPG masih kebingungan dan akan berteriak, tetapi dengan sigap Bimo
langsung menutup mulutnya sehingga yang terdengar hanya gumaman. Si
SPG mencoba meronta, namun sebuah pukulan ditengkuknya yang
diluncurkan oleh Dodot membuatnya langsung pingsan.

Aku menoleh ke belakang, Bimo dan Dodot tersenyum memandangku
seolah-olah ingin menyatakan bahwa operasi penculikan sudah berhasil.
Kulihat kain yang menutupi rok mininya tersingkap, dan meskipun di
dalam mobil gelap, aku masih dapat melihat pahanya yang mulus. Dodot
pun tak tahan langsung memijat dan meraba paha yang mulus itu. Mobil
kami langsung meluncur ke rumah Aguk yang memang kosong dan biasa
sebagai tempat kami berkumpul.
Setelah sampai dan memarkir mobil di garasi, kami menggendong SPG
yang masih pingsan itu ke dalam kamar. Di sana kami mengikatnya pada
kursi kayu yang ada. Aku duduk di ranjang menghadap SPG yang masih
lunglai itu yang terikat di kursi kayu. Teman-temanku kelihatannya
memang menghadiahkan SPG itu ke padaku untuk diperlakukan apa saja.

“Dot… ambilin air.” Dodot keluar kamar dan tak lama masuk dengan
segelas air yang disodorkan kepadaku. Aku berdiri dan menyiramkan
pelan-pelan ke wajah SPG itu. Ketika sadar, SPG itu terlihat sangat
terkejut melihatku di depannya, “Kamu…” katanya seraya menggerakkan
tubuhnya, dan dia sadar kalau tubuhnya terikat erat di sebuah kursi.
Kali ini aku yang tersenyum, senyum kemenangan. “Mau apa kamu?” masih
dengan sombong SPG itu bertanya setengah menghardik kepadaku. “Kalau
kamu macam-macam, aku akan teriak,” lanjutnya lagi. Aku hanya
tersenyum, “Silahkan saja teriak, nggak bakal terdengar kok,” kataku
sambil menyalakan tape si Aguk, kebetulan lagunya dari band
Metallica, Unforgiven, kusetel agak keras, meskipun aku yakin bahwa
kamar Aguk letaknya terisolir, jadi tidak mungkin teriakannya
didengar orang lain.

Ketakutan mulai terlihat di wajah SPG itu, wajahnya yang cantik sudah
mulai terlihat memelas memohon iba. Namun kebencian di hatiku masih
belum padam, aku ingin memberinya pelajaran!.
“Siapa namamu?” tanyaku dengan nada datar.
“Vera,” jawabnya.
“Ampun Mas, maafkan aku, aku disuruh boss untuk bersikap begitu,”
katanya seolah membela diri.
Tidak peduli dengan pembelaan dirinya, langsung kusibakkan kain yang
menutupi roknya, lalu dengan kasar kutarik roknya hingga ke pangkal
paha. Vera menatapku ketakutan, “Jangan, jangan Mas…” ucapnya
memelas seakan tahu hal yang lebih buruk akan menimpa dirinya. Lagi
dengan kasar kutarik bajunya sehingga kursi yang didudukinya bergeser
dan kancing bajunya hampir lepas semua. Terlihat oleh kami bulatan
payudara yang masih tertutup BH berwarna putih. Tak tahan melihat itu
Aguk dan Dodot yang berdiri di sampingnya langsung meremas-meremas
payudara itu. Vera sangat ketakutan, ditengah ketakutannya dia
berusaha meronta, namun hal itu semakin meningkatkan nafsu kita.
Jari-jariku langsung meraba secara liar daerah liang kewanitaannya
yang masih tertutup CD, mengelus dan berputar-putar dengan lincah dan
sekali-sekali mencoba menusuk. “Tidakkk.. tidakkk..” Vera berkata
lirih seolah ingin menolak takdir.

“Breetttt… breettt…” kubuka dengan paksa seluruh baju Vera
sehingga yang terlihat hanya BH dan CD-nya saja. “Naikkan ke atas
meja,” kataku, serta merta ketiga temanku langsung bekerja sama
memegangi Vera dan mengikatnya di atas meja. Vera meronta-ronta
sekuat tenaga namun tentu saja usahanya tidak mampu melawan tiga
tenaga cowok. Sekarang dia sudah terlentang di atas meja dengan
tangan terikat di sudut-sudut meja, kedua kakinya agak menjulur ke
bawah karena mejanya tidak cukup panjang, namun kami mengikatnya
secara terpisah pada dua kaki meja. Kami sendiri posisinya sekarang
di samping tubuhnya. Lalu dengan sekali tarik kulepas BH-nya dan
menonjollah dua bagian payudaranya yang cukup padat berisi. Sekarang
kami melihat sebuah tubuh yang putih mulus dan langsing dengan
tonjolan payudara yang bergoyang-goyang karena Vera masih berusaha
meronta. Karena meronta, terlihat CD-nya yang agak transparan
semakin mengetat memperlihatkan lekuk-lekuk liang kewanitaannya.

“It’s showtime!” teriakku yang disambut oleh kegembiraan
teman-temanku dan wajah ketakutan Vera. Aku langsung mengambil
beberapa karet gelang, lalu kulingkarkan di payudara Vera sampai
terlihat mengeras dan merah. “Aduhhh…” erang Vera, masih kutambah
penderitaannya dengan menjepitkan jepitan yang biasa digunakan Aguk
untuk alat elektronik, bentuknya bergerigi dan terbuat dari logam
tipis yang di-chrome, kujepitkan di kedua puting susunya. “Aduhhh..
ahhh.. aduuhhh” Vera mengerang kesakitan. Aguk lalu memberiku sebuah
alat seperti pecut, yang terbuat dari beberapa tali tampar kecil
sekitar 5 buah yang salah satu ujung-ujungnya dijadikan satu pada
sebuah pegangan dari rotan. Entah untuk apa alat ini biasanya
digunakan Aguk, pikirku, tapi peduli apa, yang penting sekarang benda
ini ada gunanya.

“Jangan.. ampunnn Mas…” pinta Vera, melihat aku mengibas-ngibaskan
pecut itu. Aku ...


This page:




Help/FAQ | Terms | Imprint
Home People Pictures Videos Sites Blogs Chat
Top
.