peperonity.net
Welcome, guest. You are not logged in.
Log in or join for free!
 
Stay logged in
Forgot login details?

Login
Stay logged in

For free!
Get started!

Text page


yulian07.peperonity.net

Hari Raya Galungan

Hari Raya Galungan, Kemenangan Kebaikan atas Kejahatan

Hari Raya Galungan yang dirayakan setiap 210 hari sekali itu memiliki makna merayakan atau memperingati hari kemenangan dharma (kebaikan) melawan adharma (kejahatan).

Berdasarkan kitab pararaton Jawa, Hari Raya Galungan pertama sekali dirayakan di Indonesia pada abad ke-11, tepatnya di Jawa. Namun sejak keruntuhan kerajaan Majapahit, Hari Raya Galungan ini lama tak diperingati lagi.

Kemudian, Hari Raya Galungan kembali diperingati di Bali. Perayaan ini bermula karena Raja Jaya Kusunu mendapat sabda atau wangsit dari Bhatara Durga kembali merayarakan Hari Raya Galungan.

Pada masa itu, banyak warga masyarakat menderita sakit. Menerima wangsit ini, Raja Jaya Kusunu kemudian merayakan kembali Hari Raya Galungan. Tak lama kemudian warga masyarakat akhirnya sembuh dari penyakit.

Dalam mitologi di Bali, perayaan Hari Raya Galungan berawal dari adanya peperangan antara pasukan yang dipimpin Bhatara Jaya Indra melawan Maya Dhanaunta yang selalu melarang rakyat melakukan sembahyang atau ibadah. Dalam pertempuran yang cukup sengit itu, akhirnya Maya Dhanaunta bisa dikalahkan. Meski demikian, prajurit Bhatara Jaya Indra banyak yang tewas.

Sebagai bukti sejarah tentang adanya peperangan itu adalah keberadaan Tirta Empul di Tampak Siring, Gianyar, Bali. Tak lama seusai pertempuran itu, Bhatara Jaya Indra menancapkan tongkatnya ke tanah.

Dan ketika tongkat dicabut, dari dalam tanah keluar air bak air mancur. Air ini selanjutnya dipakai memerciki para prajurit yang akhirnya hidup kembali. Tempat keluarnya air itu diberi nama Tirta Empul.

Dalam sastra atau lontar Sundarigama, makna inti dari perayaan Hari Raya Galungan adalah menyucikan pikiran supaya berpikir bijaksana.

Ada beberapa rangkaian upacara keagamaan yang dilakukan umat Hindu di Bali serangkaian dengan Hari Raya Galungan ini. Misalnya pada hari Minggu, dilakukan upacara penyekeban yang tujuannya mengendalikan segala pikiran negatif agar tidak mengganggu ketenangan dalam berpikir.

Kemudian Senin, diadakan upacara penyajanan sebagai awal persiapan menyambut Galungan. Pada saat itu, umat Hindu harus mampu menghadapi godaan-godaan berkaitan dengan turunnya bhutakala tiga. Pada saat itu, orang harus sudah bisa mengendalikan dirinya, baik dari luar maupun dalam.

Pada hari Selasa dilaksanakan upacara penampahan yang memiliki arti menyangga persiapan Hari Raya Galungan yang jatuh pada hari Rabu. Pada puncak perayaan hari kemenangan ini, masyarakat di Bali mendirikan penjor (umbul-umbul) di sekitar Pura maupun wilayah tempat tinggalnya. Penjor mempunyai makna sebagai lambang kemenangan.

Pada puncak perayaan Hari Raya Galungan ini, umat Hindu diajak perlahan-lahan menata diri dan menggali kedamaian dalam diri. Seluruh umat Hindu mulai pagi hingga siang hari melakukan persembahyangan di Pura guna menghaturkan pemujaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, Dewa dan para Leluhur.

Pada puncak perayaan Galungan ini, umat Hindu meyakini bahwa para Dewa dan Leluhur turun ke dunia. Kedatangannya itu, disambut dengan memberikan persembahan dan memohon anugerah keselamatan dunia dan diri sendiri.

Sumber :
www.sinarharapan.co.id


This page:




Help/FAQ | Terms | Imprint
Home People Pictures Videos Sites Blogs Chat
Top
.