peperonity.net
Welcome, guest. You are not logged in.
Log in or join for free!
 
Stay logged in
Forgot login details?

Login
Stay logged in

For free!
Get started!

Text page


zedt02.peperonity.net

eliza9

—ooOoo—

“Eliza… bangun El”, sayup sayup aku mendengar suara Sherly. Kurasakan rambutku dibelai lembut oleh Sherly, hingga aku makin malas bangun, malah menyandarkan kepalaku di pundak Sherly. “El, pindah kamar yuk, masa kamu tidur di sini?”, Sherly mencoba membangunkanku. “Mmm…”, aku masih belum bangun benar dan menjawab sekenanya. Setelah terdiam beberapa saat, tiba tiba kurasakan tangan Sherly merayapi tubuhku, dan kemudian tangan itu sudah meremasi payudaraku dengan lembut.

“Oh.. Sheer..”, keluhku dengan suara pelan. Perlahan aku membuka mataku, dan begitu aku mengangkat kepalaku, Sherly segera memagut bibirku. Aku hanya pasrah saja mengikuti kemauan Sherly, tapi itu karena aku belum sadar benar dari tidurku. Begitu aku mulai sadar, aku terkejut dan mencoba melepaskan pagutan bibir Sherly dengan panik. Sherly yang mungkin terkejut dengan perubahan reaksiku yang tiba tiba ini, melepaskan pagutannya dan memandangku dengan penuh pertanyaan.

“Kenapa El?”, tanya Sherly. “Nanti ketahuan teman teman Sher”, jawabku pelan, walaupun nafasku mulai memburu. “Sher, nanti di kamar kan ada Bella, tolong kamu jangan begini ya Sher. Nanti kalau dia sampai tahu kita seperti ini, kan nggak enak, juga nanti kan bisa bisa dia cerita sama teman sekelasku yang lain”, aku mencoba memberikan pengertian pada Sherly. Untungnya Sherly mengangguk sambil tersenyum, dan berkata, “Iya nona cantik, tapi sekarang aku cium kamu satu kali dulu yah”.

Dan Sherly mencium bibirku dengan mesra sekali, membuatku lemas dan hanyut dalam ciumannya. Tak hanya mencium bibirku, Sherly kembali meremas kedua payudaraku, dan aku hanya bisa pasrah, tak ada lagi perlawanan dariku karena aku sudah amat terangsang. Perlahan aku mulai membalas ciuman Sherly, dan aku juga meremas payudaranya, ini adalah pertama kalinya aku meremas payudara seorang wanita. Sherly menatapku sayu, kelihatan sekali ia juga terangsang, pasrah saja ketika aku terus meremasi payudaranya yang rasanya begitu empuk tapi kenyal ini.

Yang terjadi kemudian, kami malah bergumul, saling memeluk dengan erat, dan yang pasti ciuman kami makin memanas. Tapi aku cepat menghentikan Sherly yang sudah menyusupkan tangannya di balik celana dalamku. “Sher.. jangan, nanti kita bisa ketahuan teman teman”, aku mencoba membujuk Sherly. Aku tahu aku pasti tak tahan untuk tidak melenguh jika Sherly mengaduk aduk liang vaginaku. Dan untungnya Sherly bisa mengerti, ia menarik keluar tangannya dari balik celana dalamku. “El.. tapi kapan kapan, aku boleh ya”, kata Sherly yang terus memandangku dengan sayu, hingga aku merasa jengah.

Aku mengangguk dengan tak yakin. Sherly kembali menciumi wajahku, bahkan berlanjut ke leherku. Aku harus menahan sekuat tenaga untuk tidak merintih. Entah berapa lama kami berdua larut dalam kemesraan yang seharusnya tak boleh terjadi ini. Kami terus saling memeluk, diam diam aku melihat jam dinding. kini sudah jam satu pagi, satu jam lagi sebelum aku harus ke tempat pak Basyir. Maka aku tahu aku harus segera mengajak Sherly untuk tidur sekarang juga, jadi nanti aku bisa mengendap keluar tanpa ketahuan olehnya saat aku harus ke kamar penjaga vilaku di luar sana.

“Sher, udahan yuk, kita tidur sekarang ya”, kataku pada Sherly, yang mengangguk sambil tersenyum, dan kami berdua segera melepaskan pelukan kami, lalu masuk ke dalam kamar. Bella sudah tertidur pulas di ranjangku, dan karena memang di tiap kamar ranjangnya cuma ada satu, maka kami berdua naik ke ranjang ini dengan pelan, karena tak enak kalau sampai membangunkan Bella. Bella sendiri tidur di pinggir. Sherly membaringkan tubuhnya di tengah ranjang, dan aku berbaring di sebelahnya.

Melihat Bella sudah tidur, Sherly memelukku, meremasi payudaraku dan menciumi rambutku. Aku hanya pasrah dan menggigit bibir menahan nikmat, tapi untungnya tak lama kemudian Sherly sudah tertidur. Aku lalu melihat jam, setengah jam lagi paling lambat, aku sudah harus ada di kamar pak Basyir, maka aku memutuskan untuk ke sana sekarang saja. Aku memindahkan tangan Sherly yang menindih payudaraku, dan pelan pelan aku akhirnya bisa melepaskan diriku dari pelukan Sherly.

Perlahan aku turun dari ranjang, dan dengan langkah yang kuatur perlahan sekali, aku membuka pintu kamarku dan setelah aku keluar kamar, kututup kembali pintu kamarku, dan semua itu kulakukan nyaris tanpa suara. Lalu aku keluar dari bangunan utama vilaku ini, menuju kamar penjaga vilaku yang mesum itu. Tanpa mengetuk pintu, aku langsung masuk ke dalam kamar pak Basyir. Buat apa juga bersopan sopan pada orang yang tak tahu diri seperti dia ini?

“Wah akhirnya non Liza datang juga, bapak sudah nggak sabar nih”, seru pak Basyir girang. Aku hanya diam, malas menanggapinya. Karena aku ingin semua ini cepat selesai, aku segera melepaskan semua pakaianku hingga aku telanjang bulat. Pak Basyir juga melakukan hal yang sama, dan sesaat kemudian aku sudah berbaring di tempat tidur pak Basyir, yang segera ikut naik dan menindih tubuhku. Ia menyibakkan rambutku sambil berkata, “Non Liza.. non cantik sekali”. Aku hanya diam saja tak perduli.

Lalu pak Basyir mulai mengecup bibirku, lalu berlanjut ke leherku dan kedua puting payudaraku. Aku tetap diam saja, menekan semua perasaanku supaya aku bisa menerima cumbuan dari orang yang umurnya sangat tua dibandingkan diriku ini. Dengan demikian aku sama sekali tak merasa terpaksa atau sedang diperkosa, bahkan perlahan aku bisa menikmati semua cumbuan ini. Setelah puas mencumbuiku, pak Basyir mempersiapkan diri untuk menyetubuhiku, kepala penisnya sudah menempel di bibir vaginaku. Perlahan, liang vaginaku terbelah oleh penis pak Basyir yang terus membenamkan penisnya dalam dalam.

“Ngghh..”, aku melenguh pelan, dan tubuhku sedikit menggeliat saat liang vaginaku menerima tusukan penis pak Basyir. Bandot tua ini terus memompa liang vaginaku dengan senyum kemenangan, sedangkan aku hanya bisa membuang muka, malu rasanya melihat penjaga vilaku sedang melecehkanku seperti sekarang ini. Tapi aku tak ada keinginan untuk melawan ataupun berontak, karena kini otot liang vaginaku mulai mengejang setelah diaduk aduk oleh penis pak Basyir, rasanya nikmat sekali.

“Oh… non Liza… memekmu memang enaak..”, erang pak Basyir yang makin cepat menggenjotku. Aku heran melihatnya seperti akan segera orgasme, tapi ini kesempatan buatku. Dari hanya pasrah, aku mulai menggerakkan pinggulku, menyambut tiap hunjaman penis pak Basyir pada liang vaginaku. “Nnggghh…”, aku melenguh keenakan, karena kurasakan liang vaginaku tertusuk sangat dalam oleh penis pak Basyir, sedangkan pak Basyir sendiri tak kuat lagi, tubuhnya mulai berkelojotan.

“Ohh… non Lizaaa…”, erang pak Basyir panjang, dan penisnya yang berkedut keras menyemprotkan cairan spermanya membasahi liang vaginaku, dan ia langsung ambruk menindihku. Aku belum orgasme, tapi aku memang sedang tak ingin. Kudorong tubuh pak Basyir yang masih menindihku hingga penisnya yang sudah loyo itu terlepas dari jepitan liang vaginaku. Ia terguling di sampingku, nafasnya tersengal sengal dan senyuman penuh kepuasan terukir di wajahnya yang sudah mulai penuh dengan keriput itu.

Aku beranjak duduk, sambil mengatur nafasku yang memburu. “Udah puas kan pak.. Liza kembali dulu”, kataku pada pak Basyir. “Non, masa cuma satu ronde? Bapak kan kangen sama memek non..”, protes pak Basyir, hingga aku yang sudah turun dari ranjang untuk memakai baju, terpaksa kembali duduk di ranjang. “Pak, jangan lama lama, satu ronde lagi saja ya.. Liza juga mau tidur”, aku mengingatkan pak Basyir agar jangan keterusan memperkosaku sampai pagi. “Iya non”, kata pak Basyir sambil mendekapku.

Aku membaringkan tubuhku di sebelah pak Basyir, dan membiarkan pak Basyir menyusu sepuasnya pada kedua payudaraku dengan bergantian. Aku memejamkan mataku, entah kenapa aku sudah mengantuk, padahal tadi aku sempat tertidur agak lama waktu bersama teman temanku menonton DVD di ruang tengah. Pak Basyir menindihku, menciumi wajahku, mataku, pipiku, dan melumat bibirku dengan begitu bernafsu. Aku agak heran, orang setua pak Basyir ini bagaimana masih memiliki gairah setinggi ini…

Kurasakan perlahan penis pak Basyir yang menempel di bawah perutku perlahan mulai membesar, kelihatannya pak Basyir sebentar lagi akan memulai ronde ke dua. Aku menggeliat sebentar supaya lebih nyaman sebelum tubuhku harus tersentak sentak lagi oleh tusukan penis pak Basyir pada liang vaginaku sebentar lagi. “Non Liza… memeknya non Liza bapak masukin lagi ya”, kata pak Basyir. Dengan ketus aku menjawab, “Biar Liza jawab jangan juga, tetep bapak masukin kan? Buat apa sih pak Basyir pakai nanya? Cepat masukin sana!”. Jengkel juga aku melihat penjaga vilaku yang pura pura lugu itu.

“Jangan marah non Liza, bapak kan permisi dulu supaya non Liza nggak kaget”, kata pak Basyir dengan cengengesan. Aku membuang mukaku mengarahkan pandanganku ke jendela, dan sesaat aku sempat agak panik ketika aku melihat bayangan berkelebat, dan aku tak bisa yakin apakah tadi itu bayangan seseorang yang berkelebat, atau hanya karena ada daun jatuh yang menutupi sinar lampu di halaman yang mengarah ke kamar ini. Tapi aku tak bisa berlama lama memikirkan hal itu, karena sesaat kemudian kurasakan liang vaginaku kembali terbelah oleh penis penjaga vilaku ini.

“Anngghh..”, aku melenguh pelan menahan nikmat, sekali ini pak Basyir dengan tepat mengaduk liang vaginaku di satu titik yang memberiku perasaan nikmat yang luar biasa. “Oooh..”, aku merintih keenakan, dan pak Basyir makin bersemangat memompa liang vaginaku. “Heghh.. Non Liza… enak yaa?”, lagi lagi pak Basyir melecehkanku saat aku menggeliat hebat, dan aku hanya bisa melenguh dan merintih, “Ngghhh… mmhhh.. iyah paak…”. Tubuhku terus tersentak sentak mengikuti irama genjotan pak Basyir, sampai akhirnya aku merasa selangkanganku seakan hendak meledak.

“Aaaaahhh… paaak… akuu… ouughh.. ngggghhhh…”, aku melenguh lenguh keenakan tak kuasa menahan terjangan badai orgasme yang melandaku, tubuhku menggeliat hebat, kedua betisku melejang lejang sementara kedua tanganku meremas sprei dengan kuat, yang merupakan ekspresiku untuk menahan nikmat, dan celakanya genjotan pak Basyir sama sekali tidak mereda. “Aaduuh paaak.. ampuuun…”, aku mengerang tak kuat menahan nikmat ini, tubuhku mengejang hebat sebelum perlahan aku mulai melemas tak berdaya di bawah keperkasaan penjaga vilaku ini setelah cairan cintaku membanjir.

“Non Liza.. enak ya?”, ledek pak Basyir. Aku sudah tak mampu menjawab, hanya mengangguk lemah. Tulangku rasanya copot semua, dan aku hanya bisa pasrah ketika pak Basyir terus melecehkanku. Betisku dijilatinya hingga aku kegelian, sementara penisnya yang masih keras itu tetap bersarang di dalam liang vaginaku dengan gerakan memompa yang perlahan. Entah mengapa di ronde ke dua ini pak Basyir malah makin perkasa, padahal di ronde pertama tadi ia sudah ejakulasi tanpa sempat membuat aku orgasme.

Aku merasa seolah olah sebuah batangan kayu atau besi sedang keluar masuk di liang vaginaku, yang membuatku tak bisa bergerak bebas. “Pak.. kok masih.. belum keluar sih? Liza capek nih..”, keluhku. “Bentar lagi non.. sabar ya…”, kata pak Basyir. Aku diam saja, dan pak Basyir terus melanjutkan memompa liang vaginaku. Ia terus memandangi wajahku, hingga aku menjadi jengah dan membuang muka, walaupun aku tak bisa kemana mana karena tubuhku masih berada di bawah tindihan pak Basyir.

Tak lama kemudian, kurasakan penis pak Basyir mulai berkedut di dalam sana, dan ia mengerang panjang menyebut namaku, “Non Lizaaaa… oooooh”. Semprotan sperma yang cukup banyak kembali membasahi rahimku. Aku menggeliat ...
Next part ►


This page:




Help/FAQ | Terms | Imprint
Home People Pictures Videos Sites Blogs Chat
Top
.