peperonity.net
Welcome, guest. You are not logged in.
Log in or join for free!
 
Stay logged in
Forgot login details?

Login
Stay logged in

For free!
Get started!

Text page


zedt03.peperonity.net

yyyyy

. Pesta Seks Yang Liar

Mendengar itu semua, aku dan Jenny saling pandang, dan kemudian sama sama mengangkat bahu. Kami berdua yang masih mengenakan seragam sekolah, juga Cie Stefanny yang hanya menutupi tubuhnya dengan selimut, mengikuti Sherly yang minta ditunjukkan di mana kamar tiga pejantan itu.

Kini kami berempat sampai di depan pintu kamar mereka. Aku menatap Sherly, mencoba memastikan apakah ia bersungguh sungguh. Tapi Sherly sudah tak sabar dan ia langsung membuka pintu kamar mereka.

“Hei, kalian ini, beraninya cuma kalau tiga lawan satu sama Cie Stefanny ya? Kalau kalian ini memang jantan, jangan main keroyok seperti itu”, kata Sherly dengan ketus pada pak Arifin, Wawan dan Suwito yang kini terbengong bengong sambil memandang ke arah Sherly.

“Lho? Non kok nantang Wawan… Belum tau dia…”, kata Wawan yang langsung berdiri dan mendekap Sherly, lalu menyeret Sherly yang sama sekali tak melawan itu ke atas ranjang mereka.

“Eh Arifin! Kamu mau apa? Nggak dengar ya kata kata Sherly tadi kalau jangan main keroyok? Biarin Sherly sama Wawan sendiri!”, semprot Jenny yang memang sudah mengenal pak Arifin yang sering mengantarku ke sekolah, dan Jenny juga sudah mengenal Wawan dan Suwito karena Jenny memang sering datang ke rumahku.

Aku tak tahu harus berbuat apa ketika aku melihat Jenny menarik tangan pak Arifin yang sudah mengarah kepada Sherly, lalu Jenny mendorong pak Arifin hingga jatuh terbaring ke ranjang. Dan tanpa berkata apa apa lagi Jenny sudah menindih pak Arifin.

Kini tinggal Suwito, yang lagi tertegun. Ia mungkin tak pernah menyangka ada dua bidadari seperti Jenny dan Sherly ini, yang menyerahkan diri dengan sukarela untuk disetubuhi teman temannya seperti ini. Dan selagi Suwito masih tertegun, tiba tiba Cie Stefanny yang sudah menghampiri Suwito, melorotkan celana Suwito dan mulai memberikan servis oral pada penis Suwito yang langsung saja mengerang keenakan.

Setelah beberapa saat, Cie Stefanny membimbing Suwito agar berbaring di lantai. Cie Stefanny melepaskan dan membuang selimut yang membelit tubuhnya, lalu Cie Stefanny menurunkan tubuhnya menduduki selangkangan Suwito hingga penisnya tertelan seluruhnya dalam liang vagina Cie Stefanny.

“Ngghh…”, Cie Stefanny melenguh dan mulai menggoyangkan pinggulnya.

Tiba tiba, tinggal aku sendiri yang tak punya pasangan untuk ngeseks. Aku mulai memperhatikan live show dari tiga pasangan di hadapanku ini.

Sherly dan Jenny sudah tak berpakaian lengkap, baju seragam sekolah mereka sudah tak terkancing sama sekali dan mereka saling mencumbu dengan pasangannya masing masing. Sedangkan Cie Stefanny yang telanjang bulat itu meliuk liukkan tubuhnya dengan sexy saat mengendarai penis Suwito.

Semua pemandangan ini membuatku jantungku berdegup kencang dan aku mulai terbakar gairahku, tapi entah harus kulampiaskan pada siapa karena sekarang ini tak ada lagi pejantan yang tersisa untukku.

Tanpa bisa kutahan lagi, aku mengangkat rok seragam sekolahku dengan tangan kiriku, lalu aku mulai menggunakan jari tangan kananku untuk mencari dan meraba bibir vaginaku yang ternyata sudah mulai membasah ini. Aku teringat kalau hari ini aku memang tak mengenakan celana dalamku akibat paksaan Dedi kemarin.

Aku menggigit bibir mencoba menahan diri, tapi aku makin tenggelam dalam gairah ketika aku melihat Jenny dan Sherly sudah melucuti rok seragam sekolah mereka sendiri hingga keduanya tinggal mengenakan bra dan celana dalam.

Apalagi sentuhan dan gesekan jariku sendiri pada bibir vaginaku ini membuatku makin tenggelam dalam birahi. Aku sudah tak bisa berpikir jernih dan aku mulai mencelupkan jari telunjukku sendiri ke dalam liang vaginaku.

“Ngghh…”, aku melenguh perlahan menikmati masturbasiku ketika aku mendengar Sherly mulai merintih keenakan.

“Ohh… Elizaa… gilaa… barang Wawan ini… keras amat…”, Sherly meracau, ternyata Wawan sudah mulai mengggagahi Sherly yang terbaring di bawah tindihannya.

“Ngghh… Eliza… punya Arifin ini… besarnya… anghhk…”, Jenny juga ikut meracau sambil melenguh lenguh dalam pelukan pak Arifin.

“Kalian…”, aku tak tahu harus berkata dan mencelupkan jari tanganku lebih dalam pada liang vaginaku dan aku menggigit bibir menahan nikmat.

Pikiranku makin kacau melihat Sherly terus meracau sambil menggeliat. Setelah beberapa kali mendengar ceritaku tentang keperkasaan Wawan, ini adalah pertama kalinya Sherly merasakan sendiri secara langsung sekeras apa penis Wawan kalau sedang ereksi. Dan tentu sekarang ini Sherly merasakan apa yang sering kurasakan pada liang vaginaku saat Wawan sedang menggagahiku.

Dan aku menjadi iri melihat Sherly yang mulai melemas dan merintih rintih keenakan seperti itu selagi Wawan terus menggenjotkan penisnya yang keluar masuk memompa liang vagina Sherly. Jantungku berdegup kencang dan aku menggigit bibir menahan gairahku.

“Ngghh… aduuuh… enaaak Waaan…”, Sherly melenguh dan meracau tak karuan dan tubuhnya kembali menggeliat hebat.

Racauan Sherly ini membuatku makin kacau, dan aku mencelupkan jari tengah tangan kananku ke dalam liang vaginaku untuk menemani jari telunjukku di dalam sana, lalu aku mengadukkan kedua jari tanganku itu kuat kuat di dalam sana.

“Oooh… Arifiiin… teruuus…”, aku kembali mendengar suara Jenny yang juga meracau keenakan.

Aku makin memperhebat adukan jariku pada liang vaginaku, bahkan jariku kugerakkan kesana kemari untuk mengorek dinding liang vaginaku. Akibatnya kedua kakiku menjadi lemas hingga aku menyandarkan punggungku pada dinding kamar ini, dan aku mulai merintih keenakan selagi tubuhku menggigil merasakan sensasi nikmat yang menjalari tubuhku.

“Eliza… jangan… tunggu Cie Cie… oooh…”, Cie Stefanny merintih dan tubuhnya tersentak sentak liar.

Ternyata Cie Stefanny sudah mengalami orgasme terlebih dahulu. Aku mengerti maksud Cie Stefanny, aku seharusnya membantu Cie Stefanny, Sherly dan Jenny untuk memenangkan ‘pertandingan’ dalam pesta seks ini, bukan malah bermasturbasi mencari kenikmatanku sendiri dan orgasme dengan percuma.

Tapi Suwito tak melepaskan Cie Stefanny begitu saja, tubuh mungil Cie Stefanny didekap erat dan Suwito menyentakkan pinggulnya ke arah Cie Stefanny sampai beberapa kali hingga Cie Stefanny melenguh lenguh keenakan dan kelihatannya orgasme yang mendera Cie Stefanny itu makin menghebat.

“Udah dong Suwito… sekarang sama aku dong… Cie Stefanny kan udah keluar…”, aku merengek pada Suwito agar ia melepaskan Cie Stefanny.

Aku tak perduli lagi dengan segala http://telurrebus.wordpress.com/category/eliza-high-school-gir... macam harga diri ini. Toh aku sudah sering ngeseks dengan tiga pejantan ini termasuk juga Suwito.

Dan juga, selain aku membutuhkan penis Suwito yang masih ereksi itu untuk memuaskan hasratku, aku jadi ingin tahu apa yang terjadi kalau sperma tiga pejantan di ruang ini berhasil kami peras habis.

“Siap non… oooh…”, Suwito mengerang keenakan ketika ia mendorong tubuh Cie Stefanny yang menindihnya hingga penisnya terlepas dari liang vagina Cie Stefanny.

Cie Stefanny langsung ambruk ke lantai dengan nafas tersengal sengal. Beberapa kali tubuh Cie Stefanny tersentak sexy, dan rambut Cie Stefanny terurai dan sebagian melekat di punggung Cie Stefanny yang basah oleh keringat.

Sebenarnya aku ingin juga bermesraan dengan Cie Stefanny yang terlihat begitu sexy dan menggairahkan dalam keadaan seperti itu, tapi sekarang ini aku lebih menginginkan tusukan penis Suwito pada liang vaginaku, untuk mengorek dan mengaduk dinding liang vaginaku.

Maka aku yang masih mengenakan baju dan rok seragam sekolah ini langsung menaiki selangkangan Suwito, menggantikan Cie Stefanny untuk mengendarai penis Suwito yang masih ereksi dengan perkasa ini.

Sambil mengangkat rok yang kukenakan ini sampai ke pinggangku, perlahan kuturunkan selangkanganku hingga kurasakan kepala penis Suwito menyentuh bibir vaginaku yang sudah semakin basah ini.

Aku mendesah nikmat dan terus menurunkan tubuhku hingga penis itu membelah bibir vaginaku dan terus melesak masuk ke dalam liang vaginaku. Pegangan tanganku pada ujung ujung rok seragamku ini kulepaskan, dan aku berpegangan pada dada Suwito.

“Oooh… ngghh…”, aku merintih dan melenguh ketika Suwito tiba tiba menyentakkan tubuhnya ke atas hingga rasanya penis Suwito itu seperti memaku liang vaginaku.

Baru beberapa genjotan dari Suwito, aku sudah merasa pening. Mungkin karena tenagaku masih belum begitu pulih setelah ngeseks seharian kemarin. Aku mencoba bertahan dan terus berjuang mengendarai penis Suwito, tapi setiap gesekan batang penis Suwito pada dinding liang vaginaku membuat tubuhku menggeliat keenakan dan tentu saja aku terus merintih dan melenguh.

“Ngghkk.. aaaah…”, tiba tiba kudengar Sherly melenguh dan menjerit keenakan.

Melihat Sherly yang menggeliat dan berkelojotan tak karuan, lalu lemas dan pasrah di bawah tindihan Wawan, aku tahu Sherly sudah mencapai orgasmenya. Aku membayangkan nikmat yang dirasakan Sherly itu dan aibatnya semua bayangan yang ada di pikiranku itu membuat gerakanku makin liar. Aku menekan nekan pinggulku ke bawah mengocok penis Suwito yang langsung mengerang dan melolong keenakan.

“Huoooh… non Elizaaa…”, Suwito melolong panjang dan tubuhnya berkelojotan.

Kurasakan penis Suwito berkedut berkali kali dan sperma yang tersemprotkan dari penis Suwito itu begitu banyak, membanjiri liang vaginaku. Aku sendiri belum mencapai orgasmeku, dan saat kurasakan penis Suwito mengecil, aku bermakud menikmati kerasnya penis Wawan. Kan tadi itu Sherly baru saja orgamse, jadi aku bisa menggantikan Sherly untuk ngeseks dengan Wawan.

“Ngghh… terus Waaan… ooooh…”, Sherly kembali menggeliat liar dan meracau sejadi jadinya saat Wawan tiba tiba mempercepat irama genjotan penisnya pada liang vagina Sherly.

Ternyata Sherly masih ingin mereguk nikmatnya ngeseks dengan Wawan walaupun orgasme sudah menderanya. Aku sedikit kecewa dan hanya bisa menunggu giliranku sambil berharap Sherly segera takluk oleh keperkasaan Wawan.

“Arifiin… nggghh… enaaakk…”, Jenny yang dari tadi mendengus dan merintih itu kini meracau tak karuan dan kembali melenguh lenguh keenakan.

Jantungku berdegup makin kencang, apalagi melihat Jenny yang sejak tadi ngeseks dengan posisi woman on top itu menggelepar dalam dekapan pak Arifin yang dengan kejam melumat bibir Jenny yang dalam keadaan orgasme seperti itu. Jenny merintih tertahan dan kedua tangan Jenny itu menggenggam sesaat, lalu melemas mengikuti irama tubuh Jenny yang tersentak tak karuan.

Dan aku sudah hampir gila ketika aku melihat Cie Stefanny merangkak ke arah Suwito, lalu memberikan servis oral pada penis Suwito yang masih belepotan sperma setelah tadi berejakulasi di dalam liang vaginaku. Semua adegan seks di depanku ini membuat menginginkan adanya pejantan yang memberikan kenikmatan seks padaku, menyetubuhiku, menggagahiku bahkan memperkosaku.

Untungnya aku melihat pak Arifin sudah melepaskan Jenny yang kini terbaring lemas di samping pak Arifin. Maka tanpa membuang waktu lagi, aku segera naik ke atas tubuh pak Arifin untuk merasakan nikmatnya terjangan penis milik pak Arifin pada liang vaginaku ini.

Tapi, tiba tiba pak Arifin menahan tubuhku hingga ...
Next part ►


This page:




Help/FAQ | Terms | Imprint
Home People Pictures Videos Sites Blogs Chat
Top
.