peperonity.net
Welcome, guest. You are not logged in.
Log in or join for free!
 
Stay logged in
Forgot login details?

Login
Stay logged in

For free!
Get started!

Text page


zedt03.peperonity.net

eeeeee

. Terbangun Dari Mimpi Buruk

“Non, kok menangis?”, aku merasa terkejut, yang barusan bertanya ini jelas bukan suara Andi.

Apakah benar benar ada orang lain di ruangan ini? Aku segera membuka mataku kembali, dan yang pertama kulihat adalah langit langit… kamarku sendiri!?

Aku mengarahkan pandanganku ke depan, ternyata Suwito yang berada di depanku, dekat sekali, dengan kedua betisku yang tertumpang di pundaknya. Lalu di mana Andi? Kulihat jam digital di meja belajarku, ternyata sekarang ini hari Jumat jam 12:15… pagi!? Harusnya begitu, karena kalau ini siang dan masih jam segitu, aku pasti belum pulang dari sekolah.

Tapi tetap saja aku ragu. Siapa tahu aku pulang lebih awal? Dan semua tadi itu adalah nyata?

Walaupun mataku memang basah oleh air mata, sesaat kemudian aku mulai berharap tadi itu semuanya hanyalah mimpi.

“Suwito… ini masih pagi kan?”, aku bertanya penuh harap.

“Masih tengah malam non”, jawab Suwito, yang terlihat heran dengan pertanyaanku.

Tapi jawaban Suwito yang belum jelas ini membuatku kembali kuatir. Aku sendiri merenung sejenak, mencoba memahami keadaanku. Tubuhku yang telanjang bulat tanpa sehelai kainpun yang melekat, terduduk di kursi meja belajarku. Suwito sendiri seperti duduk di depanku, membuatku cukup tertarik untuk memperhatikan bagaimana ia melakukannya. (kisah bb)

Ternyata ia memang sedang duduk di atas kursi satunya dari meja belajarku, yang ditaruhnya berhadapan dengan kursi yang kududuki ini. Dengan penisnya yang menancap dalam liang vaginaku tentunya, yang kini denyutan denyutan penis itu sedikit banyak membuatku jadi terangsang juga.

“Cie Stefanny…”, aku langsung teringat, dengan jantung berdegup kencang, berharap Cie Stefanny masih ada di sini, karena itu adalah hal yang paling bisa meyakinkanku kalau semua kejadian bersama Andi yang tadi itu hanyalah mimpi buruk.

“Guru lesnya non? Tuh, Wawan yang dapat bagian”, jawab Suwito sambil cengengesan. ©kisahbb

Aku segera menoleh ke sana kemari tanpa memperdulikan tawa Suwito yang kurang ajar ini, dan aku segera menemukan Cie Stefanny, sedang tergolek di ranjangku, dengan kedua tangannya yang terentang pasrah terikat pada kedua ujung ranjangku. Tubuhnya telanjang bulat sama sepertiku, dan kulitnya yang putih mulus itu jadi terlihat begitu putihnya dengan adanya tubuh Wawan yang kini sedang menindih dan mencumbui guru lesku ini.

Sesekali aku melihat Cie Stefanny meronta, tapi dengan kedua tangannya yang terentang dan terikat erat pada sudut sudut ranjangku, tak banyak yang bisa dilakukan oleh Cie Stefanny selain sesekali mengejang menerima rangsangan demi rangsangan yang diberikan oleh Wawan.

“Mmphh…”, kembali kudengar Cie Stefanny merintih.

Melihat Cie Stefanny masih di sini, aku sudah yakin kalau semua kekejaman Andi tadi itu hanyalah mimpi buruk. Oh Tuhan, entah bagaimana nasibku kalau mimpi tadi itu adalah kenyataan, dan kini aku menangis sejadi jadinya meluapkan kelegaanku.

“Non… maaf membuat non marah”, kata Suwito dengan panik sambil menjauhkan dirinya dariku hingga penisnya terlepas dari jepitan liang vaginaku.

Ingin sekali aku menahan Suwito, aku tak ingin penis itu terlepas meninggalkan liang vaginaku. Tapi sekarang ini aku memikirkan Cie Stefanny, maka aku harus menahan gairahku sendiri dan memastikan Cie Stefanny baik baik saja.

Aku melihat Wawan sudah berhenti bergerak dan memandangku dengan tegang, kelihatannya ia juga kuatir melihatku menangis. Tepat ketika aku mulai memikirkan bagaimana mereka berdua ini bisa masuk ke kamarku, karena aku sangat yakin tadi aku sudah mengunci pintu kamarku, tiba tiba sesosok tubuh muncul dari jendela kamarku, dan setelah bunyi klik yang menandakan tertutupnya jendelaku, sosok itu mendorong dan menerobos gorden di kamarku yang menutup kaca jendela itu.

Ternyata sosok itu adalah pak Arifin!

Aku menyesali kebodohanku yang tadi tidak memeriksa kunci jendela kamarku. Aku memang hampir tak pernah membuka jendela kamarku hingga sama sekali tak terlintas di pikiranku untuk memeriksanya, dan selain itu jendela kamarku memang biasanya selalu terkunci. Siapa yang akan menyangka hal seperti ini akan terjadi? ©kisahbb

“Wah bener Wan, cantik sekali, nggak kalah sama non Eliza”, seru pak Arifin mengagumi kecantikan Cie Stefanny.

Dan aku makin kesal karena pak Arifin yang baru datang itu tanpa sungkan langsung naik ke ranjangku lalu ikut mengeroyok Cie Stefanny yang terus merintih tertahan. Tapi kemudian ia segera berhenti karena ditahan oleh Wawan.

“Kalian semua sudah gila ya?”, aku mendesis ngeri di sela isak tangisku.

Tak pernah aku berpikir mereka bertiga akan senekat ini, memasuki kamarku di tengah malam lewat jendela untuk memperkosaku, apalagi kini ada Cie Stefanny yang harus ikut menemaniku jadi bulan bulanan para pembantu dan sopir keluargaku ini.

Aku berdiri dan berjalan mendekati Cie Stefanny. Kulihat mulut Cie Stefanny disumpal dengan segumpal kain, yang ketika kutarik ternyata adalah celana dalamku. Benar benar kurang ajar mereka ini, aku merasa sangat marah melihat hal ini.

“Aahh…”, keluh Cie Stefanny ketika mulutnya terlepas dari sumpalan ini.

Aku cepat melepaskan semua ikatan pada kedua pergelangan tangan Cie Stefanny yang ternyata juga sedang menangis.

“Sorry Cie…”, aku tak tahu harus berkata apa selain mencoba menenangkan Cie Stefanny dengan memeluknya.

“Nggak sayang… Cie Cie nggak apa apa”, Cie Stefanny memelukku, dan tanpa kuduga sama sekali bibirku langsung dipagut Cie Stefanny dengan penuh gairah.

“Mmhhh…”, aku merintih mesra dan membalas pagutan Cie Stefanny dengan penuh gairah.

Aku membayangkan, tiga orang lelaki di kamarku ini pasti terbengong bengong melihat dua bidadari di depan mereka ini saling berpagut mesra seperti ini. ©kisahbb

Diam diam aku tertawa geli dalam hati, dan aku malah sengaja memamerkan kemesraanku dengan Cie Stefanny, walaupun aku sadar hal ini berarti kami berdua secara tidak langsung memberikan lampu hijau pada pak Arifin, Wawan dan Suwito untuk menikmati tubuh kami sepuas puasnya.

-x-

XIII. Live Show

Cukup lama aku dan Cie Stefanny berciuman dan bercumbu dengan mesra, ketika kurasakan dua tangan yang menyusup dari belakang tubuhku, mencari dan menggerayangi kedua payudaraku. Hal ini membuat gairahku yang sudah terbakar karena saling berpagut dengan Cie Stefanny ini makin menjadi jadi.

“Non Eliza… bikin takut saja pakai nangis segala”, kata Wawan gemas dan meremas kedua payudaraku dengan keras.

“Mmh… aah…”, aku merintih dan menggeliat kesakitan hingga pagutanku pada bibir Cie Stefanny terlepas.

“Eliza…”, Cie Stefanny merengek dan menatapku memelas ketika pak Arifin memeluknya dari belakang dan meremasi kedua payudaranya.

“Udah non, sama saya saja”, kata pak Arifin sambil meremasi kedua payudara Cie Stefanny yang hanya bisa merintih rintih.

Berikutnya, Cie Stefanny hanya pasrah ketika wajahnya dicumbui pak Arifin. Adegan sensual di depanku ini benar benar membuatku terbakar birahi, apalagi payudaraku sendiri terus diremasi oleh Wawan. Dan tiba tiba aku melihat Suwito yang kini sudah ada di samping kananku, dan memandangku dengan gemas, membuat jantungku berdegup kencang.

“Su… Suwito… mau apa kamu mmpph…”, kata kataku terputus ketika Suwito memagut bibirku dengan ganas.

Seperti biasa, Wawan dan Suwito dengan mudah membuatku tenggelam dalam lautan birahi. Aku hanya bisa menggeliat pasrah dalam pelukan mereka berdua, menikmati pagutan gemas Suwito pada bibirku, juga semua cumbuan dan rangsangan oleh Wawan yang memeluk tubuhku dari belakang.

Sesekali kudengar rintihan pasrah dari Cie Stefanny yang digumuli oleh pak Arifin, sementara dengusan nafas pak Arifin yang sudah begitu bernafsu terdengar dengan jelas. Aku makin terangsang membayangkan Cie Stefanny diperkosa oleh sopirku yang keranjingan ini. ©kisahbb

“Ngghh…”, aku melenguh pelan ketika Suwito yang baru saja melepaskan pagutannya pada bibirku, kini sudah kembali memaksa memasukkan penisnya ke dalam liang vaginaku.

Entah apa yang membuatku berpikir seperti ini, tapi tiba tiba saja aku ingin Cie Stefanny menikmati keperkasaan Wawan yang penisnya amat keras dan selama ini memang Wawan yang paling mampu berlama lama mempermainkan liang vaginaku. Bukan hanya itu, kini aku bahkan ingin melihat Cie Stefanny dipuaskan oleh mereka bertiga sekaligus, seperti yang biasa dilakukan oleh mereka lakukan bertiga ini padaku.

“Cie…”, aku memanggil Cie Stefanny di antara deru nafasku.

“Iyah… sayaang…”, Cie Stefanny menjawab di sela rintihannya.

“Cie Cie… mau nggak… kalau sama Wawan… ngghh…”, aku kembali melenguh ketika Suwito menusukkan penisnya begitu dalam pada liang vaginaku.

“Mmpph…”, Cie Stefanny hanya merintih tertahan, mungkin karena bibirnya sudah dipagut lagi oleh pak Arifin, aku tak bisa melihat karena aku sendiri sedang digumuli oleh Wawan dan Suwito.

“Wan… kamu sama Cie Cie aja…”, aku berkata sambil memejamkan mata menikmati genjotan Suwito.

Tanpa menjawab, Wawan melepaskan pelukannya pada tubuhku hingga kini aku terbaring di ranjang. Dan Suwito tampaknya mengerti keinginanku, ia menggeser posisi persetubuhan kami hingga aku bisa melihat ke arah Cie Stefanny yang sedang pasrah dipagut oleh pak Arifin. Kedua tangannya lunglai tanpa daya, benar benar sebuah pemandangan yang amat erotis.

Kini Wawan sudah berada di depan selangkangan Cie Stefanny. Wawan segera melebarkan kedua paha Cie Stefanny, dan bersiap untuk menusukkan senjatanya yang perkasa itu. Aku terus berusaha melihat ke arah mereka bertiga. Tapi Cie Stefanny yang sadar dengan keberadaan Wawan mencoba merapatkan kedua pahanya, tampaknya ia masih ragu untuk menerima hunjaman penis lelaki pada liang vaginanya.

Tiba tiba aku terkejut ketika memikirkan satu hal. ©kisahbb

“Suwito… berhenti…”, aku beranjak duduk dan mendorong tubuh Suwito hingga penisnya terlepas dari jepitan liang vaginaku.

“Lho… kenapa lagi non…”, Suwito penasaran dan mencoba memeluk tubuhku, tapi aku menahannya.

“Sebentar Suwitoo… nggak sabaran amat sih…”, aku mengomel dan menjauhkan diri dari Suwito yang masih menatapku dengan penuh nafsu.

Aku tak perduli dan segera merangkak mendekati Cie Stefanny, memaksa pak Arifin menghentikan pagutannya pada Cie Stefanny yang sudah hampir kehabisan nafas itu. Lalu aku memeluk Cie Stefanny dan menyusupkan kepalaku ke pundak kirinya.

“Cie… lagi subur nggak…”, aku berbisik di telinga Cie Stefanny yang terlihat sekali kalau sedang terangsang hebat ini.

Cie Stefanny menatapku dengan pandangan memelas dan ia menggeleng tanpa menjawab.

“Cie Cie mau nggak diperkosa mereka?”, tanyaku lagi dengan masih berbisik, sekali ini sambil menatap mata Cie Stefanny dengan nakal.

“Nggak mau…”, rintih Cie Stefanny dengan memelas. (kisah b b)

“Mmm… ya udah, Cie Cie lihat Eliza aja ya…”, kataku sambil menjauh dari Cie Stefanny.

Aku tahu Cie Stefanny hanya belum biasa, dan kalau aku bisa membangkitkan gairahnya, bukan tidak mungkin kalau akhirnya malah Cie Stefanny yang ...
Next part ►


This page:




Help/FAQ | Terms | Imprint
Home People Pictures Videos Sites Blogs Chat
Top
.