peperonity.net
Welcome, guest. You are not logged in.
Log in or join for free!
 
Stay logged in
Forgot login details?

Login
Stay logged in

For free!
Get started!

Text page


zedt03.peperonity.net

rrrrrrr

V. Pesta Seks Di Tengah Malam

“Cie, Eliza ke kamar mandi dulu ya, mau bersihin ini”, kataku sambil menunjukkan tanganku ke arah selangkanganku.

Cie Stefanny mengangkat badannya yang menindih tubuhku sambil melihat arah tanganku. Lalu kami berdua sama sama berdiri. Sopir dan kedua pembantuku masih duduk di lantai kamarku, asyik memandangi kami berdua.

Tapi di luar dugaanku, tiba tiba Cie Stefanny berlutut dan melebarkan kedua pahaku, lalu liang vaginaku yang masih belepotan sperma Suwito itu dicucupnya kuat kuat.

“Ngggh… Cieee…”, aku merintih keenakan.

“Woooww… isep… isep…”, kembali sopir dan kedua pembantuku bersorak menikmati tontonan adegan lesbian dari dua bidadari di hadapan mereka.

Cie Stefanny terus menghisap campuran sperma Suwito dan cairan cintaku dari liang vaginaku. Aku mulai menggeliat dan berkelojotan menahan nikmat. Setelah semuanya habis, Cie Stefanny malah memasukkan satu jari tangannya ke dalam liang vaginaku, diikuti satu jarinya yang lain lagi.

“Ngghh… ampun Cieee…”, aku mengerang.

Tapi Cie Stefanny sudah terbakar nafsunya, ia mengaduk aduk liang vaginaku dengan kedua jarinya hingga aku hanya bisa meracau keenakan. Gairahku yang belum turun sepenuhnya ini kembali meninggi dengan cepat, dan liang vaginaku rasanya seperti akan meledak saja.

“Cieee… ooohhh… ngghhh…”, aku melenguh panjang mengiringi orgasme yang melandaku.

Cairan cintaku rasanya membanjir deras, dan gilanya Cie Stefanny lagi lagi mencucup liang vaginaku. Aku sudah dalam keadaan setengah sadar, tubuhku gemetar dan mengejang hebat. Seandainya sekarang ini aku terbaring di ranjang, kedua kakiku pasti melejang tak karuan. Tapi aku tak bisa melakukannya karena kedua kakiku masih harus kupijakkan kuat kuat untuk menopang tubuhku. ©kisahbb

“Cieee… ampuuun…”, aku merintih dan memohon supaya Cie Stefanny menghentikan cucupannya pada liang vaginaku, tapi Cie Stefanny baru mau berhenti setelah cairan cintaku habis dihisapnya.

Aku terduduk lemas di lantai setelah bibir vaginaku terlepas dari hisapan bibir Cie Stefanny. Aku menatap Cie Stefanny dengan sayu dan mesra, dan kalau saja tenagaku belum habis seperti sekarang ini, mungkin aku sudah balik menerkam Cie Stefanny dan bercinta dengannya sepuas hatiku.

“Non, tadi gue belum keluar nih, ayo sekarang sama saya”, kata Wawan yang tiba tiba sudah berdiri di sampingku, lalu ia menggendongku dan membaringkan tubuhku ke ranjang.

“Wan… bentar lagi ya please… aku capek…”, aku memohon pada Wawan.

“Wah gak bisa non, tegangan tinggi nih punya gue”, kata Wawan yang sudah mengangkat kedua betisku dan ditumpangkan ke pundaknya.

“Tapi…”, aku mulai merengek ketika merasakan penis Wawan yang sudah menempel di bibir vaginaku.

“Nggghh…”, aku melenguh tanpa daya ketika Wawan mulai melesakkan penisnya membelah liang vaginaku.

Aku hanya bisa pasrah menerima tusukan penis Wawan pada liang vaginaku, berharap semoga aku tak sampai berkali kali orgasme di tangan Wawan, bisa bisa aku pingsan lagi seperti siang kemarin.

“Em… Wan, kasihan Eliza… kamu sama aku aja”, kudengar suara Cie Stefanny yang terdengar sedikit bergetar. ©kisahbb

“Makasih Cie…”, aku memandang Cie Stefanny mesra.

Wawan memandang ke arah Cie Stefanny yang menunduk malu, lalu Wawan kembali memandangku. Aku mengangguk lemas, dan Wawan segera mencabut penisnya dari jepitan liang vaginaku. Cie Stefanny melangkah ragu ke arah kami, dan ketika tubuh Cie Stefanny sudah berada dalam jangkauan Wawan, Cie Stefanny ditarik oleh Wawan ke dalam pelukannya.

“Ooh…”, rintih Cie Stefanny.

Aku bergeser ke kiri, memberikan ruang untuk Cie Stefanny yang kini dibaringkan di sampingku. Wawan yang sudah sangat bernafsu itu segera mengarahkan penisnya ke bibir vagina Cie Stefanny.

“Wan, jangan langsung main tembak gitu dong… sakit tau! Bikin basah dulu kek…”, omelku lemah.

“Siap bos!”, jawab Wawan.

Kini Wawan yang tak jadi melesakkan penisnya ke dalam liang vagina Cie Stefanny, mulai mencumbui Cie Stefanny yang pasrah saja. Rintihan memelas Cie Stefanny terus terdengar, dan mendadak Wawan protes ketika ia sudah akan mencumbui liang vagina Cie Stefanny.

“Non, sudah basah abis gini, masa masih harus dibikin basah?”, tanya Wawan yang seolah meminta persetujuanku untuk segera menggenjot Cie Stefanny.

“Oh…”, Cie Stefanny merintih malu. (kisah bb)

“Ya kalau udah basah ya udah Wan”, kataku pelan sambil memandang Cie Stefanny dan tersenyum nakal.

Setelah aku merasa cukup mengumpulkan tenaga, aku segera bangkit meninggalkan ranjangku yang akan segera menjadi arena pertempuran Cie Stefanny melawan Wawan.

“Eliza… kamu kok ninggalin Cie Cie…”, rengek Cie Stefanny.

“Enggak Cie… Eliza cuma mau membersihkan ini kok”, kataku sambil menunjuk selangkanganku yang becek ini dari belakang pantatku.

Cie Stefanny memandangku seperti ingin minta tolong diselamatkan dari perkosaan yang akan menimpa dirinya. Tapi aku cuma tersenyum nakal dan kemudian aku masuk ke kamar mandi. Di dalam sana aku mencuci liang anusku yang basah oleh cairan sperma milik pak Arifin. Aku memutuskan untuk mandi keramas sekalian, badanku rasanya lengket semua akibat keringatku sendiri yang juga bercampur keringat tiga maniak yang akan berpesta tubuh Cie Stefanny itu.

Tentu saja aku juga sekalian mencuci bersih liang vaginaku dengan cairan pembersih vaginaku. Meskipun tadi campuran cairan cairan di dalam sana sudah diseruput habis oleh Cie Stefanny, tetap saja rasanya masih ada yang tertinggal.

Selagi aku menghanduki tubuhku, aku tiba tiba teringat kata kata Cie Stefanny yang kudengar sebelum aku tertidur, yaitu ‘mm… kalau saja tadi itu ada yang merekam waktu Cie Cie bercinta…’ ©kisahbb

Aku menggigit bibir sejenak, gairahku kembali meninggi. Setelah kuhanduki seluruh tubuhku hingga kering, aku keluar dari kamar mandi tanpa terbalut sehelai kainpun alias telanjang bulat.

Aku melihat Cie Stefanny sudah takluk dan pasrah berada dalam gendongan Wawan yang berdiri di samping ranjangku. Wawan yang dengan perkasa menyetubuhi Cie Stefanny dalam gendonganya.

Aku berjalan dalam keadaan telanjang bulat seperti ini, melewati pak Arifin dan Suwito yang aku yakini masih lemas setelah ngeseks denganku. Mereka memang tak berbuat apa apa, hanya memandangi tubuhku dengan penuh nafsu.

Aku tak berniat memakai bra dan celana dalamku, takutnya mereka akan mengajakku ngeseks lagi, yang bisa membuat bra dan celana dalamku jadi lembab lagi oleh keringatku. Aku hanya menyisir rapi rambutku di depan meja riasku. Setelah selesai merapikan rambutku, aku mencari handycam milik kokoku di lemari bawah meja belajarku.

Suara rintihan dan erangan Cie Stefanny yang dibantai oleh Wawan memenuhi kamarku. Aku terus mencari handycam itu sambil menahan gairahku. Begitu kutemukan, aku langsung memeriksa apakah ada isi rekamannya atau tidak. Setelah kupastikan isinya kosong, aku mencoba merekam sembarangan selama kira kira dua puluh atau tiga puluh detik, lalu memutar hasilnya. Lalu rekaman itu kuhapus, dan aku sudah siap untuk merekam adegan panas yang dibintangi Cie Stefanny ini :p

“Eh… Elizaa… kamu kok mmpphh…”, protes Cie Stefanny terhenti karena ia kembali harus berpagut dengan Wawan.

“Kan Cie Cie tadi malam berharap ada yang merekam waktu Cie Cie bercinta…”, kataku menggoda Cie Stefanny. ©kisahbb

“Mmpphh… tapi maksud Cie Cie… bercinta sama kamu…”, rengek Cie Stefanny yang kembali berhasil melepaskan bibirnya dari pagutan Wawan.

“Nggak apa apa Cie, sekarang ini Cie Cie keliatan sexy kok”, aku meleletkan lidah dan mulai merekam adegan panas di depanku ini.

“Oooh… ngghh…”, Cie Stefanny merintih dan melenguh ketika Wawan yang perkasa itu terus menggenjot Cie Stefanny sambil berdiri, dan kini Cie Stefanny menyembunyikan wajahnya dari sorotan handycam di tanganku ini dengan cara menyusupkan wajahnya di pundak kanan Wawan.

“Wooo…”, sorakan pak Arifin dan Suwito seolah menyemangati Wawan yang sudah bersimbah peluh, sementara keadaan Cie Stefanny sendiri juga basah kuyup mandi keringat.

Setelah kira kira lima menit, Wawan menurunkan Cie Stefanny dari gendongannya. Lalu Wawan berbaring di ranjang, rupanya Wawan ingin supaya Cie Stefanny melayaninya dengan posisi woman on top.

“Non, ayo naik ke sini”, panggil Wawan pada Cie Stefanny.

Dengan menggigit bibir Cie Stefanny naik ke ranjangku. Ia memandangi penis Wawan yang tegak mengacung, siap membelah dan mengaduk aduk liang vaginanya. Beberapa saat lamanya Cie Stefanny diam seperti ragu hendak melakukan apa. Lalu Cie Stefanny menoleh ke arahku dan menatapku dengan wajah memelas.

“Eliza…”, rengek Cie Stefanny.

“Nggak apa apa Cie, ayo…”, kataku membujuk Cie Stefanny.

Cie Stefanny menghela nafas panjang seperti ingin mengumpulkan kekuatannya, lalu ia menaiki tubuh Wawan. Tapi Cie Stefanny malah diam seperti tak tahu harus berbuat apa. Maka Wawan mengarahkan penisnya hingga kepala penisnya menempel pada bibir vagina Cie Stefanny. Langsung saja Cie Stefanny mendesah, tubuhnya sedikit menggigil.

“Jangan malu malu non, ayo turunin badannya. Tadi non kan juga sudah suka”, ejek Wawan.

Cie Stefanny mulai menurunkan badannya, dan perlahan senti demi senti penis Wawan amblas tertelan dalam liang vagina Cie Stefanny. Aku tak mau melewatkan pemandangan indah ini, kusorot baik baik dengan handycam di tanganku.

“Ngghh.. ngghhh…”, Cie Stefanny melenguh dan menggeliat selama proses menyatunya tubuh Cie Stefanny dengan Wawan.

“Enak ya non?”, tanya Wawan.

“Iyah… oooh…”, rintih Cie Stefanny.

“Kalau enak, goyang dong”, Wawan melanjutkan godaannya pada Cie Stefanny. ©kisahbb

Kini aku hampir tak bisa mempercayai pandangan mataku di LCD handycam ini. Cie Stefanny mulai menggoyangkan tubuhnya, mencari kenikmatannya sendiri. Wawan yang terbaring di bawahnya mulai melolong lolong keenakan. Cie Stefanny sendiri sesekali melenguh sambil mulai menggunakan kedua telapak tangannya untuk meremasi kedua payudaranya sendiri.

“Oooh… enak… sempitnya punya non ini…”, racau Wawan.

“Non, sini saya bantu”, kata Suwito yang tiba tiba sudah berlutut di samping Cie Stefanny.

Kini Suwito mulai meremasi payudara Cie Stefanny. Bahkan sesaat berikutnya mereka saling berpagut dengan panas. Aku mengarahkan sorotan kameraku hingga cukup untuk melihat Cie Stefanny dan Suwito yang berciuman sampai bagian selangkangan Cie Stefanny yang ditembusi penis Wawan dari bawah.

“Eh pak Arifin! Ke WC dulu sana, cuci dulu punya pak Arifin! Yang bersih!”, aku setengah membentak ketika melihat pak Arifin tiba tiba lewat di belakang Cie Stefanny dan Suwito yang masih asyik berpagut.

“Oh iya non, maaf”, kata pak Arifin yang langsung minggir dan pergi ke kamar mandiku.

Aku tak ingin pak Arifin dengan penisnya yang pasti kotor dan bau itu membuat Cie Stefanny kehilangan mood untuk menjadi bintang pesta seks di ...
Next part ►


This page:




Help/FAQ | Terms | Imprint
Home People Pictures Videos Sites Blogs Chat
Top
.