peperonity.net
Welcome, guest. You are not logged in.
Log in or join for free!
 
Stay logged in
Forgot login details?

Login
Stay logged in

For free!
Get started!

Text page


zedt08.peperonity.net

apolisi

Kiani merasakah posisi tubuhnya berdiri ketika dia sedikit demi sedikit sadar dari pingsannya. Lengannya terangkat ke atas; dia merasakan kedua pergelangan tangannya diikat dan ikatannya terhubung dengan sesuatu yang menggantung di atas depan kepalanya. Berikutnya dia rasakan kedua kakinya menjejak suatu permukaan keras, tapi tidak bisa bergerak kaena pergelangan kakinya juga terikat. Posisi kedua kakinya merentang membentuk huruf V terbalik. Tubuhnya berposisi membungkuk sedikit ke depan. Gelap, dia tak bisa melihat apa-apa. Tapi dia masih bisa merasakan bahwa dia masih berpakaian. Tiba-tiba ruangan tempat Kiani berada menjadi terang. Kiani silau sesaat, lalu membelalak ketika menyadari dia sedang berada dalam satu ruangan yang seluruh dindingnya dipasangi cermin, mirip suatu studio senam atau dansa. Maka Kiani bisa melihat bayangannya sendiri, dan dia kaget karenanya. Dugaannya mengenai posisi tubuhnya tidak salah; kedua pergelangan tangannya memang terikat dan berposisi di atas kepala. Ketika dia melihat ke bawah, kedua pergelangan kakinya terikat ke satu batang besi, berposisi sedemikian sehingga dia dipaksa setengah mengangkang. Namun dia paling terkejut melihat penampilannya sendiri. Kiani sehari-hari hanya mengenakan seragam polisi dan jarang berdandan. Itu sebabnya dia terkejut melihat penampilan sosok perempuan terikat di cermin besar di hadapannya. Perempuan itu bermake-up tebal, dengan eyeshadow biru dan lipstik merah terang. Lehernya dikelilingi kalung ketat mirip kalung anjing dengan cincin yang terkait dengan rantai di depan. Dan dia mengenakan pakaian yang seumur hidup belum pernah dia pakai: kemben pendek hitam dari bahan yang menerawang; rok lipit merah kelewat pendek yang sepertinya menutup bagian bawah pantatnya pun tidak; stocking jala hitam setinggi setengah paha; dan sepatu platform ber-hak tinggi warna merah hitam yang mencolok. Hanya rambutnya saja yang tidak diapa-apakan.

“Apa… apa-apaan ini…” bisiknya kepada diri sendiri. “Kenapa aku jadi seperti ini?”

Jawabannya segera tiba. Di hadapannya, muncul banyak laki-laki bertampang seram. Yang memimpin mereka adalah seorang laki-laki berjaket kulit hitam dan berkacamata hitam. Kiani melihat leher laki-laki itu bertato; di kedua punggung tangannya pun terlihat tato, jadi mungkin si Jaket Hitam sekujur tubuhnya bertato seperti anggota Yakuza. Sebagian wajah si Jaket Hitam tertutup kacamata hitam besar, namun Kiani bisa melihat dia tercukur rapi dan senyum licik melintang dibingkai garis rahangnya yang tegas. Si Jaket Hitam menggenggam kain berwarna coklat di tangannya.

“Kiani Irawati,” kata si Jaket Hitam, membaca tulisan yang tertera di gumpalan kain coklat yang tadinya adalah seragam Kiani itu. “Eh, maaf ni seragamnya rusak gara-gara anak buahku gak becus bukain baju cewek. Maklum, biasanya mereka main sobek aja. Suka nggak sama gantinya yang lagi kamu pakai sekarang?”

“Kamu…” Kiani berusaha menggertak. “Lepaskan saya sekarang juga. Jangan macam-macam dengan polisi!”

“Ckckck, galak amat si non,” ejek si Jaket Hitam. “Kalau aku nggak mau, emangnya kenapa? Nggak bisa gitu dong. Aku paling nggak suka kalau ada orang ganggu urusanku. Termasuk polisi.”

“Kamu penjual manusia!” teriak Kiani. “Justru bajingan macam kamu mesti diberantas. Tunggu saja, sekarang pasti back-up dari kantor bakal datang ke sini!”

“Mana? Dari tadi nggak ada tuh. Jangan sombong, non. Mentang-mentang pake seragam polisi, terus kamu bisa ngebacot seenaknya di depanku? Cuh! Perempuan gak tahu diri,” ancam si Jaket Hitam.

“Jahanam!” teriak Kiani yang masih berani. “Aku tahu apa saja dosamu. Kamu jerumuskan gadis-gadis yang polos, pura-pura menawari pekerjaan, padahal mereka terus kamu jual ke pelacuran! Manusia hina! Kalau tertangkap, kamu bakal masuk penjara seumur hidup sampai busuk!”

“Eh, banyak bacot kamu. Dengar ya, aku ini pengusaha baik-baik. Anggap saja penyalur tenaga kerja. Aku beneran nawarin kerjaan kan? Mereka juga awalnya mau kan diajak kerja? Salahin tuh pemerintah yang gak becus nyediain lapangan kerja. Aku sih bantu mereka biar bisa cari duit,” kata si Jaket Hitam.

Apanya yang ngebantu?” seru Kiani gusar. “Memangnya aku nggak tahu kamu apakan saja gadis-gadis itu? Kamu… kamu siksa mereka! Kamu perkosa mereka! Kamu iblis!”

“Cerewet! Sudah cukup ngomongnya,” kata si Jaket Hitam.

Dia memungut segumpal kecil kain, yang Kiani kenali. Itu celana dalamnya sendiri. Kiani jadi sadar juga bahwa di bawah rok superpendek yang dipakaikan anak buah si Jaket Hitam, dia tidak pakai apa-apa.

“Mmphh!!” Kiani memprotes tanpa hasil ketika celana dalamnya sendiri dijejalkan ke mulutnya oleh si Jaket Hitam.

Si Jaket Hitam kemudian menjulurkan tangan ke belakang, meminta sesuatu ke anak buahnya. Rupanya satu lagi perlengkapan Kiani, pentungan karet. Kiani membelalak, memandangi si Jaket Hitam, bersiap menerima pukulan dari pentungannya sendiri. Tapi bukan itu yang dilakukan si Jaket Hitam.

“Tahu nggak, sayang bener kamu jadi polisi, kata si Jaket Hitam, ketika berdiri tepat di depan Kiani. “Bisa lihat sendiri bayangan kamu kan. Aku aja lebih seneng lihat kamu kayak gini. Kamu cakep, badanmu bagus, dadamu gede,” si Jaket Hitam mengatakan itu sambil menyentuhkan ujung pentungan ke payudara kiri Kiani yang menyembul di balik kemben transparan. “Kamu lebih cocok pakai baju ini, dandan yang cantik, daripada pakai seragam coklat jelek itu. Pasti banyak yang suka sama kamu, dan kamu bakal cepat dapat banyak duit. Mau ikut aku aja? Daripada kamu kerja begini, gaji kecil, dicela-cela masyarakat, ntar juga mesti korupsi biar bisa hidup. Kamu mau, Kiani?”

Kiani tidak bisa ngomong karena mulutnya disumpal celana dalam, dia hanya menggeleng sambil memandangi Jaket Hitam dengan tatapan benci.

“Tidak?” kata si Jaket Hitam sambil tersenyum mengejek. “Tahu nggak, aku paling nggak suka sama perempuan yang bilang tidak.”

Jaket Hitam tertawa dan Kiani langsung melotot ngeri ketika dia merasakan ujung pentungan karet yang digenggam musuhnya mengelus-elus kemaluannya. Kembali Kiani menggelengkan kepala, namun kali ini ekspresinya berubah menjadi takut. Andai tidak dibungkam, mungkin kata-kata yang keluar adalah permohonan agar yang hendak dilakukan si Jaket Hitam jangan dilakukan. Jaket Hitam tidak peduli. Setelah cukup lama menggosok-gosokkan ujung pentungan itu ke kemaluan Kiani, Jaket Hitam merogoh ke bawah, menjolokkan satu jarinya sedikit ke dalam belahan kemaluan Kiani. Polwan itu terpekik; Jaket Hitam dapat merasakan basah di jarinya…

“Udah siap nih…” kata Jaket Hitam sambil nyengir.

Kiani berusaha meronta melepaskan diri tapi ikatan di tangan dan kakinya membuat dia tak mampu menghindar dari nasib buruk yang akan segera menimpanya. Dan datang pula tindakan keji itu. Si Jaket Hitam menjolokkan pentungan karet ke dalam kemaluan Kiani yang perawan, menembus lapisan tipis perlambang kesucian Kiani sebagai seorang gadis. Kiani merasakan sakit di selangkangannya dan air mata mengalir dari sudut matanya selagi dia menyadari betapa tak berdayanya dia di tangan bajingan ini. Tiba-tiba Kiani teringat dengan keluarganya yang tinggal di kota lain, ayah ibunya yang selalu membangga-banggakan dia, dan janjinya sendiri kepada mereka untuk selalu menjaga diri. Hari itu Kiani mesti mengorbankan sesuatu yang sangat berharga baginya sebagai risiko pekerjaannya.

Darah perawan yang mengalir sepanjang pentungan dicolek sedikit oleh Jaket Hitam, lalu dengan kejam dia menunjukkan jarinya yang bernoda darah itu ke depan mata Kiani. Jaket Hitam melanjutkan ejekannya dengan mengulum jari itu. Kiani hanya bisa menangis sambil terbungkam. Si Jaket Hitam mendesakkan lagi pentungan polisi itu ke dalam kemaluan Kiani, lalu melepas pegangannya. Polwan yang baru diperawani itu kini berdiri agak membungkuk dengan kaki setengah mengangkang, dan terlihat sebatang pentungan karet tertancap tak senonoh di balik rok mininya, dengan sedikit darah mengalir di permukaannya. Si Jaket Hitam tertawa, lalu menyuruh anak buahnya mendekat. 12 laki-laki bertubuh besar dan bertampang seram lalu mengerubungi Kiani.

“Silakan dinikmati,” kata si Jaket Hitam yang lantas berbalik keluar dari kerumunan itu.

Kiani hanya bisa memandang ketakutan selagi wajah-wajah seram dan bernafsu di sekelilingnya mendekat. Salah seorang di antara mereka kemudian mencubit-cubit putingnya, membuat Kiani meringis walau cubitannya tidak keras. Kiani merasa dikhianati tubuhnya sendiri karena putingnya terasa lebih keras. Seorang di antara mereka yang berkepala botak menarik kaos kemben yang dipakai Kiani ke atas sehingga sepasang payudara 36C Kiani terpamerkan di depan mereka. Si Botak kemudian meraih payudara kanan dan mulai menjilati puting Kiani. Lidah si Botak menjalar dari ujung puting ke areola berwarna gelap di sekelilingnya. Kemudian, si Botak membuka mulutnya lebar-lebar dan mencoba melahap sebanyak mungkin bagian payudara Kiani. Kiani meronta-ronta, tapi tubuhnya dipegangi oleh yang lain. Mau teriak jelas tidak bisa karena mulutnya tersumpal celana dalam. Namun di antara teriakannya, terselip satu erangan yang dianggap orang-orang sekelilingnya sebagai tanda Kiani mulai terbawa birahi. Mendengar itu si Botak makin semangat mengisap payudara Kiani.

Tak lama kemudian, tangan kirinya meremas payudara kiri sang polwan sementara tangan kanannya turun ke paha Kiani.

“Eh, tangan lu mau ke mane tuh?” seorang teman si Botak yang berambut gondrong berkomentar iseng.

Si Botak mencabut pentungan yang memerawani Kiani, dan mulai menjamah bibir vagina Kiani. Sekali lagi erangan lembut keluar dari mulut Kiani. Si Botak langsung menjebloskan satu jarinya ke dalam kemaluan Kiani yang basah. Tak lama kemudian dia memasukkan satu jari lagi sambil mengocok-ngocok bagian dalam vagina Kiani. Kiani meronta-ronta tanpa daya.

“Mhhghh!!” desah Kiani, tak mampu menahan sensasi yang ditimbulkan jari-jari si Botak.

Si Gondrong kini ikut beraksi, dia bergerak ke belakang Kiani lalu ikut merogoh kemaluan Kiani. Kiani mendengar suara resleting dibuka. Si polwan menoleh ke belakang dan menyadari apa yang mau dilakukan si Gondrong. Anak buah si pedagang manusia itu menyibak rok supermininya dan menggenggam kedua sisi pantatnya, membuka belahan pantatnya sampai lubang duburnya terlihat… Kiani panik ketika sadar apa yang mau dilakukan si Gondrong. Polwan yang malang itu makin keras meronta, berusaha melepaskan diri dari penganiayaan seksual yang dialaminya. Kiani pun merasakan sesuatu menempel di pintu masuk bokongnya…kepala penis si Gondrong. Dia menjerit dan berusaha menggerakkan pantatnya agar menjauh dari calon penerobos itu, tapi dua orang lagi yang mengerumuninya, satunya brewokan sementara satunya lagi berambut cepak dengan codet besar di dahi, menahan tubuhnya sehingga dia tak bisa lolos. Pelan-pelan kepala burung si Gondrong mendesak lingkaran pintu duburnya dan mulai menerobos liang pantatnya.

Di tengah rasa sakit akibat awal pemerkosaan terhadap pantatnya, tiba-tiba Kiani kuatir dia bisa cedera lebih parah kalau dia terus bergerak. Si Gondrong terus mendesakkan burungnya yang panjang itu ke dalam ujung belakang saluran pencernaan Kiani sementara si Botak di depannya ganti mengenyot-ngenyot payudara kiri Kiani sambil mengobel kemaluan Kiani dengan tiga jari. Si Brewok dan si Codet mulai memegang-megang tubuh Kiani juga. Begitu seluruh penisnya masuk ke dubur Kiani, si Gondrong bilang ke teman-temannya,

“Sempit banget nih bo’olnya! Kenceng jepitannya, gue ampe ga bisa gerak!”

Sesudah ngomong begitu, si Gondrong langsung menyodomi Kiani dengan penuh semangat, dengan cepat memaju-mundurkan pinggangnya menggempur pintu belakang si polwan tanpa ampun. Kiani menjerit-jerit selagi tubuhnya yang dikekang terguncang-guncang dan penis si ...
Next part ►


This page:




Help/FAQ | Terms | Imprint
Home People Pictures Videos Sites Blogs Chat
Top
.